Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Efektivitas Terapi Akupunktur pada Pasien Osteoarthritis Lutut : Literature Review Tarigan, Gladys Ametha; Ahmad Fauzi; Anisa Nuraisa Jausal
Jurnal Anestesi Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Anestesi: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/anestesi.v3i1.1613

Abstract

Knee osteoarthritis is a degenerative disease that causes stiffness, pain, and joint deformity, potentially impacting patients' quality of life. Acupuncture is a non-pharmacological therapy option. This study aimed to evaluate the effectiveness of acupuncture therapy in knee osteoarthritis patients using literature searches on PubMed®, Cochrane®, and ScienceDirect® with the keyword "effectiveness therapy of acupuncture for knee osteoarthritis." The analysis showed that acupuncture could reduce pain intensity and improve quality of life through the regulation of inflammatory factor inhibition, neurological activity modulation, stimulation of ?-endorphin release, and antioxidant activation. Further studies are needed to ensure long-term effects and optimize therapy combinations for treating knee osteoarthritis patients.
Article Review : Peran Hipertensi terhadap Patomekanisme Stroke Iskemik dan Hemoragik Muhammad Arbyanka Diontama; TA Larasati; Anisa Nuraisa Jausal
Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Vol. 3 No. 1 (2025): Januari : Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/termometer.v3i1.4752

Abstract

Stroke is a syndrome characterized by sudden focal neurological deficits caused by vascular injury, either hemorrhage or infarction in the central nervous system. According to the World Health Organization, approximately 15 million people experience stroke worldwide each year, with 5 million resulting in death and another 5 million suffering permanent disability. Hypertension is a major risk factor for both ischemic and hemorrhagic stroke, mediated by complex pathophysiological mechanisms. This review aims to explore the mechanisms by which hypertension contributes to the pathophysiology of stroke based on current evidence. The study adopts a literature review approach, utilizing data sources from journal articles, books, and other relevant documents accessible online via search engines such as Google Scholar®, PubMed®, and ScienceDirect®. The findings indicate that ischemic stroke occurs due to atherosclerosis and microvascular dysfunction induced by hypertension, whereas hemorrhagic stroke involves vessel rupture resulting from arterial wall weakening. Hypertension also affects the permeability of the blood-brain barrier through molecular pathways such as vascular endothelial growth factor (VEGF) release, leading to cerebral edema. Studies demonstrate that effective blood pressure control can significantly reduce the risk of stroke by up to 41%, underscoring hypertension as a primary target in stroke prevention.
Effect of Disease Acceptance on Glycemic Control in Type 2 Diabetes Mellitus Patients Muhammad Arbyanka Diontama; TA Larasati; Anisa Nuraisa Jausal; Lisiswanti, Rika
Journal Medical Informatics Technology Volume 3 No. 1, March 2025
Publisher : SAFE-Network

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37034/medinftech.v3i1.98

Abstract

This study aims to analyze the relationship between disease acceptance and glycemic control in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM). A narrative systematic review was conducted using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews method, identifying 929 articles from various scientific databases, including PubMed®, ScienceDirect®, Cochrane Library®, and Google Scholar®. The screening and selection process resulted in 19 relevant articles, consisting of a mix of experimental studies and observational studies, that were analyzed to evaluate the impact of disease acceptance on diabetes management and glycemic control in T2DM patients. The review findings show that higher disease acceptance is significantly associated with improved self-management, better glycemic control (with reduced HbA1c levels), and decreased levels of stress and depressive symptoms. Several acceptance-based psychological interventions, such as Acceptance and Commitment Therapy (ACT) and group education programs, were found effective in enhancing disease acceptance. These interventions also help patients achieve optimal glycemic control. These findings emphasize the importance of applying psychological approaches in the management of T2DM to support more comprehensive and sustainable disease care, ultimately improving the quality of life for T2DM patients
Pengaruh Screen Time terhadap Status Gizi Mahasiswa pada Masa Pandemi COVID-19: Tinjauan Pustaka Pinkan Ahdalifa; Dian Isti Angraini; Anisa Nuraisa Jausal
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa yang menjalani perkuliahan di era pandemi COVID-19 sedang beriringan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Adanya kebijakan pemerintah mengenai pembelajaran dalam jaringan mengakibatkan tingginya intensitas screen time pada mahasiswa sehingga berpengaruh pada status gizi mahasiswa. Didukung dengan fasilitas yang memadai dengan harga murah dan mudah dijangkau, kebijakan tersebut juga menjadikan segala kegiatan secara mudah dilakukan hanya dalam satu genggaman atau tanpa mobilitas yang berlebihan. Beberapa hal yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki dan mengharuskan berpindah ke lokasi lain, kini dapat dilakukan hanya dengan mudahnya seperti memesan makanan, belanja kebutuhan sehari-hari,mengerjakan tugas, berkomunikasi, dan mendapat hiburan. Mahasiswa menghabiskan waktudi depan layar untuk belajar, bekerja, bermain game, menonton vieo, dan bermain sosial media. Tingginya intensitas screen time mengakibatkan rendahnya aktivitas fisik, beriringan dengan asupan makan yang berlebih menyebabkan peningkatan status gizi pada mahasiswa menjadi overweight hingga obesitas.Kata Kunci: Mahasiswa, Screen Time, Status Gizi.
Literature Review : Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Jenis Operasi Terhadap Kejadian Post Operative Nausea Vomitting Wayan Swari Dharma Patni; Ari Wahyuni; Anisa Nuraisa Jausal; Hendri Busman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp32-39

Abstract

Abstrak: Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) adalah komplikasi umum pascaoperasi yang dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, aspirasi paru, dan memperpanjang rawat inap. PONV diklasifikasikan menjadi early (2–6 jam), late (6–24 jam), dan delayed (>24 jam) pascaoperasi. Metode dalam penulisan ini menggunakan literature review dengan sumber berasal dari PubMed dan google scholar. Wanita memiliki risiko lebih tinggi terhadap PONV akibat fluktuasi hormon estrogen dan progesteron, terutama pada fase folikular dan ovulasi siklus menstruasi. Risiko PONV menurun setelah menopause. Jenis operasi yang berisiko tinggi termasuk laparoskopi, neurosurgery, operasi payudara, dan operasi telinga, hidung, tenggorokan (THT). Penanganan PONV meliputi pencegahan dan terapi menggunakan obat seperti antagonis reseptor 5-HT3 (ondansetron, granisetron), antagonis reseptor NK-1 (aprepitant), kortikosteroid (dexamethasone), dan metoklopramid. Pemilihan obat disesuaikan dengan tingkat risiko dan jenis operasi. Pendekatan farmakologis ini bertujuan mengurangi insidensi PONV, komplikasi terkait, dan meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi.
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Jarak Kehamilan dengan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil: Sebuah Tinjauan Literatur Muhammad Fauzan Iqbal; Sutarto; Anisa Nuraisa Jausal; Rodiani
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 2 No. 12 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi Desember 2025)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v2i12.1456

Abstract

Decreased hemoglobin (Hb) levels during pregnancy are a public health problem that is still widely found, especially in low- and middle-income countries, and contributes to increased maternal and perinatal morbidity and mortality. Pregnant women are a vulnerable group due to increased iron requirements and physiological changes during pregnancy. This study aims to systematically review the relationship between education level and interpregnancy interval with hemoglobin levels in pregnant women. The method used was a structured narrative literature review with literature searches on the PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and Garuda databases. The articles included were quantitative studies on pregnant women published in the last five years (2021–2025) and reporting the relationship between education level or interpregnancy interval and anemia or hemoglobin levels. The synthesis results showed that education level indirectly affects hemoglobin levels through health literacy, nutritional knowledge, adherence to iron supplementation, and utilization of antenatal services. Mothers with low education tend to have lower hemoglobin levels due to limited understanding and preventive behaviors against anemia, although this effect may be weakened in contexts with good access to information and health services. Short interpregnancy intervals (less than 24 months) are consistently associated with decreased hemoglobin levels through the mechanisms of incomplete recovery of iron reserves after childbirth and increased physiological stress. Overall, education and interpregnancy interval affect hemoglobin levels through interrelated cognitive, behavioral, and biological pathways, necessitating an integrated intervention approach for anemia prevention in pregnant women.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Hidrasi Pekerja PT.X Lampung Putra, Ruchpy Cahya; Winda Trijayanthi Utama; Anisa Nuraisa Jausal; Sutarto
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.972

Abstract

Latar Belakang: Iklim kerja panas merupakan risiko kesehatan okupasional signifikan yang dapat mengganggu termoregulasi dan menyebabkan dehidrasi. Kegagalan dalam mengganti cairan yang hilang akibat keringat berlebih dapat meningkatkan suhu inti tubuh dan memicu penyakit akibat panas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan paparan iklim kerja panas, tingkat asupan cairan, dan status hidrasi di kalangan pekerja industri. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional ini dilakukan pada Agustus–November 2025 di departemen cannery, PT. X, Lampung. Sebanyak 100 pekerja berpartisipasi melalui random sampling. Data iklim kerja diukur menggunakan Heat Stress Monitor (ISBB/WBGT), asupan cairan diukur dengan kuesioner, dan status hidrasi dinilai secara objektif melalui Berat Jenis Urin (BJU) menggunakan refraktometer. Hasil: Mayoritas pekerja (80%, n=80) teridentifikasi terpapar iklim kerja panas di atas Nilai Ambang Batas (NAB). Terkait perilaku hidrasi, 41% pekerja (n=41) memiliki asupan cairan yang tidak adekuat (<2.000 ml/hari). Meskipun demikian, sebagian besar pekerja (62%, n=62) ditemukan memiliki status hidrasi normal (BJU <1.026), sementara 38% (n=38) teridentifikasi mengalami dehidrasi. Kesimpulan: Terdapat prevalensi dehidrasi yang substansial (38%) di lokasi penelitian. Temuan bahwa mayoritas pekerja terpapar panas tinggi (80%) namun mayoritas tetap terhidrasi (62%) menunjukkan kemungkinan peran protektif dari asupan cairan yang adekuat (ditemukan pada 59% pekerja) dan proses aklimatisasi panas. Intervensi kesehatan kerja harus difokuskan pada edukasi untuk memperkuat kebiasaan minum (faktor individu) guna mengatasi 38% pekerja yang masih dehidrasi. 
Perbandingan Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia) dan Fusidic Acid terhadap Proses Penyembuhan pada Luka Insisi Kulit Tikus Putih Jantan Strain Sprague-Dawley Alvina Christy Maretta; Waluyo Rudiyanto; Anisa Nuraisa Jausal; Hendra Tarigan Sibero; Sugeng Dwi Hastono
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.1008

Abstract

Pendahuluan: Penyembuhan luka insisi terdiri dari proses biologis kompleks yang melibatkan fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodelling. Fusidic acid digunakan luas sebagai terapi topikal karena aktivitas antibakterinya, namun penggunaan jangka panjang berpotensi menimbulkan resistensi. Anredera cordifolia (binahong) mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang dilaporkan memiliki efek antiinflamasi, antioksidan, serta merangsang pembentukan kolagen, sehingga berpotensi sebagai alternatif terapi. Metode: Penelitian ini merupakan true experimental design dengan post-test only control group pada 25 ekor tikus putih jantan strain Sprague-Dawley yang dibagi menjadi empat kelompok: P0 (fusidic acid), serta P1, P2, dan P3 yang diberi ekstrak etanol daun binahong topikal konsentrasi 10%, 20%, dan 40%. Evaluasi penyembuhan luka dilakukan pada hari ke-3, 7, dan 14 melalui pengukuran penyusutan luka. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji post hoc LSD. Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan (p > 0,05) antara P1, P2, dan P3 dengan P0. Pembahasan: Efektivitas tertinggi pada konsentrasi 40% diduga terkait aktivitas antiinflamasi dan stimulasi proliferasi fibroblas dari kandungan metabolit sekundernya, sehingga mempercepat pembentukan jaringan granulasi. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak binahong memiliki potensi sebagai alternatif terapi topikal yang sebanding dengan fusidic acid. Simpulan: Ekstrak etanol daun binahong memiliki efektivitas yang sebanding dan pada konsentrasi lebih tinggi berpotensi melebihi fusidic acid dalam mempercepat penyembuhan luka insisi kulit pada tikus putih. Binahong dapat dipertimbangkan sebagai terapi alternatif berbasis herbal dalam manajemen luka.