Penelitian ini mengkaji pendekatan inklusif dan kontekstual yang dikembangkan oleh PKBM Luthfillah Kota Palangka Raya dalam membangun “literasi Tangguh” sebagai benteng pencegahan putus sekolah di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif metode studi kasus, penelitian ini menggali praktik pembelajaran dan sistem pendukung yang efektif dalam menangani peserta didik dari latar belakang rentan secara sosial, ekonomi, dan psikologis. Temuan menunjukkan bahwa PKBM Luthfillah berhasil menurunkan potensi putus sekolah dari 15% menjadi hanya 3% dalam satu tahun ajaran melalui integrasi pembelajaran kontekstual, pendampingan holistik, dan penguatan literasi fungsional. Program seperti ELLSA (English Learning through Life Skill Activity), pengolahan sampah terintegrasi, kelas kompetensi berbasis teman sebaya, serta penerapan SOP pencegahan putus sekolah menjadi fondasi utama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang responsif dan inklusif. Pendekatan SMART (Senang, Motivasi, Aplikatif, Reflektif, Terpadu) dan penggunaan life mapping serta Program Pembelajaran Individual (PPI) memperkuat personalisasi pembelajaran. Meskipun terbatas dalam akses teknologi, lembaga tetap mampu mengembangkan literasi digital melalui pembelajaran hibrida dan kolaboratif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketahanan pendidikan tidak semata ditentukan oleh infrastruktur digital, tetapi lebih pada komitmen pedagogis, empati, dan kolaborasi multi-pihak. Model PKBM Luthfillah layak direkomendasikan untuk menjadi rujukan nasional dalam pengembangan pendidikan kesetaraan yang berkeadilan.
Copyrights © 2025