Artikel ini membahas pentingnya moderasi beragama dalam konteks pendidikan agama, khususnya di pondok pesantren, sebagai tanggung jawab kolektif yang tidak hanya melibatkan individu, tetapi juga lembaga. Melalui pemahaman yang moderat dan inklusif, pesantren dapat menjadi garda terdepan dalam mengajarkan nilai-nilai toleransi, kedamaian, dan keseimbangan dalam beragama, serta menjaga keberagaman sebagai berkah yang memperkaya kehidupan bersama. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan istiqra', yang melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber pustaka, seperti buku, tesis, artikel, dan jurnal, serta analisis data secara deskriptif kualitatif dan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penanaman moderasi beragama di pondok pesantren dilakukan melalui berbagai pendekatan yang beragam, namun memiliki tujuan yang sama yaitu membentuk santri yang toleran, inklusif, dan berpikiran moderat. Beberapa pesantren mengandalkan gerakan dakwah sebagai instrumen utama, seperti Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Al-Mazaya Paser, yang mengintegrasikan dakwah dengan nilai-nilai inklusif, toleran, dan menghargai keberagaman. Selain itu, kajian kitab kuning di pesantren seperti Al-Anwar dan Al-Qur'an Ath-Thabraniyyah menjadi metode penting dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Dalam konteks ini, kitab-kitab klasik seperti fiqih, tasawuf, dan akhlak diajarkan untuk memperkuat sikap tasamuh, tawazun, dan syura, yang menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam perbedaan pendapat. Selain itu, pesantren juga memanfaatkan pembelajaran agama, peran kyai, dan pemanfaatan teknologi untuk menanamkan moderasi beragama. Kyai di pesantren seperti Al-Anwar dan Al-Qur'an Ath-Thabraniyyah menjadi teladan dalam mengajarkan nilai-nilai moderat melalui pengajaran kitab kuning dan kehidupan sehari-hari yang mencerminkan sikap toleran. Sementara itu, teknologi dan literasi media menjadi sarana yang semakin penting untuk membekali santri agar lebih kritis dan selektif dalam menerima informasi, khususnya di era digital. Pondok Pesantren Harisul Khairaat menekankan pentingnya literasi media dalam menghadapi tantangan radikalisasi di dunia maya, dengan mengajarkan santri untuk menggunakan media sosial secara bijak dan moderat. Secara keseluruhan, pesantren berperan sebagai benteng ideologis dalam membangun karakter santri yang religius namun tetap berpikiran terbuka dan cinta damai.
Copyrights © 2024