Relasi manusia dengan dirinya sendiri merupakan persoalan fundamental dalam filsafat karena menyentuh dimensi ontologis, etis, dan eksistensial keberadaan manusia. Dalam masyarakat kontemporer, terutama di kalangan Generasi Z, muncul penegasan kuat terhadap pentingnya mencintai dan mendahulukan diri sendiri sebagai bentuk kesadaran akan otonomi subjek dan kesehatan mental. Namun, penegasan ini kerap berhadapan dengan nilai-nilai etika tradisional yang menekankan kewajiban sosial, khususnya penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep menjadi diri sendiri melalui analisis relasi subjek dan diri dalam perspektif filsafat, dengan mengintegrasikan refleksi atas fenomena sosial aktual di ruang publik serta temuan kajian ilmiah dari psikologi dan sosiologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif reflektif-filosofis melalui kajian pustaka dan pengamatan langsung terhadap fenomena sosial masyarakat. Kajian ini menunjukkan bahwa menjadi diri sendiri tidak identik dengan individualisme egoistis, melainkan merupakan proses reflektif yang menuntut keseimbangan antara kebebasan subjek, kesehatan mental, dan tanggung jawab etis dalam kehidupan bersama.
Copyrights © 2026