Penelitian ini membahas tentang perubahan Kota Kendari dari kabupaten menjadi kota, serta kehidupan sosial ekonomi Kota Kendari dari kabupaten menjadi kota, 1959-1995. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang memiliki beberapa tahapan yakni; pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan beberapa hal, Pertama, berdasarkan P.P. No. 32 tahun 1952 Kewedanan Kendari yang juga merupakan daerah Pemerintahan swapraja Laiwoi tergabung dalam daerah Tingkat II Sulawesi Tenggara yang berpusat di Bau-Bau. Pada tahun 1964 melalui peraturan UU Nomor 2/1964 Sulawesi Tenggara berdiri sendiri dengan Ibukota Kendari. Perubahan status Kendari dari Kabupaten menjadi Kota seperti sekarang tentunya telah memenuhi persyaratan dan telah disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Perubahan status wilayah Kendari yang awalnya merupakan Kabupaten menjadi Kota yang ada di Sulawesi Tenggara dilatar belakangi oleh beberapa faktor antara lain kemampuan dalam ekonomi serta keuangan, luasnya wilayah yang berpotensi untuk mendukung kehidupan masyarakatnya, jumlah penduduk yang padat dan stabilitas roda pemerintahan yang terus berjalan. Kedua, penduduk Kota Kendari terdiri dari berbagai golongan serta bermacam-macam etnik dan sub kultur yang mempunyai kepentingan serta kebutuhan yang berbeda-beda pula. Struktur masyarakat Sulawesi Tenggara dalam hal ini masyarakat Kabupaten Kendari terdiri dari tiga lapisan sosial. Pertama yaitu, kelompok intelektual menjadi kelompok yang menempati kedudukan tertinggi dalam masyarakat. Kedua, adalah kelompok menengah, yang dimana mereka itu umumnya terdiri dari pegawai rendah sampai menengah, pedagang/pengusaha dan tukang. Ketiga yaitu, kelompok yang paling bawah yang terdiri dari golongan buruh kasar dan petani-petani di desa.
Copyrights © 2025