Perkembangan informasi teknologi dan maraknya penggunaan media sosial telah mengubah lanskap penyebaran radikalisme. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi ketertindasan ( naratif korban ) dan teori konspirasi sering dikemas dengan gaya bahasa hiperbolik serta retorika emosional untuk memanipulasi psikologi audiens. Selain itu, adaptasi budaya internet seperti penggunaan meme, hashtag, dan kode-kode tertentu menjadi strategi ampuh untuk menembus filter dan menjangkau generasi muda. Kesimpulannya, bahasa merupakan medium utama dalam radikalisasi yang berfungsi untuk membangun emosi negatif dan mengkondisikan persepsi masyarakat. Pemahaman mengenai pola bahasa ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi kontra-narasi yang efektif dan meningkatkan literasi masyarakat digital.
Copyrights © 2026