Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Etika Humor dalam Ruang Publik: Mengapa Kita Tidak Boleh Menormalisasi Candaan kebencian Ester Melisa; Syarah Febrina; Chelisie Adila Putri; Nazwa
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6855

Abstract

Humor merupakan instrumen komunikasi sosial yang kuat, namun batas antara komedi dan penghinaan sering kali menjadi kabur dalam praktik sehari-hari. Artikel ini mengeksplorasi fenomena normalisasi candaan kebencian ( perkataan kebencian yang disamarkan sebagai humor ) di masyarakat. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, artikel ini menganalisis dampak psikologis dan sosiologis dari humor yang mempengaruhi kelompok tertentu. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa normalisasi candaan kebencian berkontribusi pada desensitisasi moral dan memperkuat stigma sosial. Kesimpulan utama menekankan bahwa humor yang sehat harus menjunjung tinggi martabat manusia tanpa harus mengorbankan integritas pihak lain.
PENYEBARAN RADIKALISME MELALUI BAHASA DI MEDIA SOSIAL Vadila Yashir Tanjung; Rizky Aminata; Laifa Salsabila; Wahdini Arhan; Andika Priyono; Syarah Febrian; Chelsie Adila Putri; Ester Melisa; Nazwa Dwi Aprilia
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i3.6923

Abstract

Perkembangan informasi teknologi dan maraknya penggunaan media sosial telah mengubah lanskap penyebaran radikalisme. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi ketertindasan ( naratif korban ) dan teori konspirasi sering dikemas dengan gaya bahasa hiperbolik serta retorika emosional untuk memanipulasi psikologi audiens. Selain itu, adaptasi budaya internet  seperti penggunaan meme, hashtag, dan kode-kode tertentu menjadi strategi ampuh untuk menembus filter dan menjangkau generasi muda. Kesimpulannya, bahasa merupakan medium utama dalam radikalisasi yang berfungsi untuk membangun emosi negatif dan mengkondisikan persepsi masyarakat. Pemahaman mengenai pola bahasa ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi kontra-narasi yang efektif dan meningkatkan literasi masyarakat digital.