Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN PANCASILA UNTUK MENANGKAL RADIKALISME PADA REMAJA Wahdini Arhan; Vadila Yashir Tanjung; Rizky Aminata; Laifa Salsabila; Andika Priyono
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6807

Abstract

Radikalisme di kalangan remaja menjadi ancaman serius dalam era digital, di mana pemuda rentan terhadap ideologi ekstrem melalui media sosial dan kelompok sebaya. Artikel ini mengkaji peran Pancasila sebagai dasar filosofis negara dalam menangkal radikalisme pada remaja, dengan fokus pada pembentukan nilai toleransi, pluralisme, dan demokrasi. Menggunakan pendekatan deskriptif-analitik yang didukung oleh review literatur dari sumber akademik seperti laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan studi terkait, artikel ini menguraikan definisi radikalisme serta tantangannya pada remaja, kemudian menganalisis kontribusi masing-masing sila Pancasila—Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia—dalam membentuk ketahanan ideologis. Strategi implementasi meliputi pendidikan formal dan non-formal, peran keluarga serta masyarakat, serta pemanfaatan teknologi untuk melawan propaganda ekstrem. Hasil analisis menunjukkan bahwa Pancasila berfungsi sebagai benteng pencegahan dengan mengintegrasikan nilai-nilai inklusif, yang dapat mengurangi risiko eskalasi radikalisme menjadi terorisme. Artikel ini merekomendasikan penguatan pendidikan Pancasila sebagai langkah krusial untuk membangun generasi muda yang toleran dan demokratis, dengan implikasi praktis bagi kebijakan pendidikan dan keamanan nasional.
PENYEBARAN RADIKALISME MELALUI BAHASA DI MEDIA SOSIAL Vadila Yashir Tanjung; Rizky Aminata; Laifa Salsabila; Wahdini Arhan; Andika Priyono; Syarah Febrian; Chelsie Adila Putri; Ester Melisa; Nazwa Dwi Aprilia
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i3.6923

Abstract

Perkembangan informasi teknologi dan maraknya penggunaan media sosial telah mengubah lanskap penyebaran radikalisme. Hasil analisis menunjukkan bahwa narasi ketertindasan ( naratif korban ) dan teori konspirasi sering dikemas dengan gaya bahasa hiperbolik serta retorika emosional untuk memanipulasi psikologi audiens. Selain itu, adaptasi budaya internet  seperti penggunaan meme, hashtag, dan kode-kode tertentu menjadi strategi ampuh untuk menembus filter dan menjangkau generasi muda. Kesimpulannya, bahasa merupakan medium utama dalam radikalisasi yang berfungsi untuk membangun emosi negatif dan mengkondisikan persepsi masyarakat. Pemahaman mengenai pola bahasa ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi kontra-narasi yang efektif dan meningkatkan literasi masyarakat digital.