Pendahuluan: Apendisitis akut merupakan salah satu kegawatdaruratan bedah abdomen yang paling sering ditemukan di Indonesia, yang memerlukan diagnosis cepat untuk mencegah komplikasi seperti perforasi dan peritonitis. Penggunaan sistem skoring seperti Skor Alvarado bertujuan untuk meningkatkan akurasi klinis dan menekan angka apendektomi negatif. Metode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif analitik terhadap 75 pasien yang menjalani apendektomi di sebuah fasilitas kesehatan di Indonesia. Data dikumpulkan dari rekam medis yang mencakup usia, jenis kelamin, parameter Skor Alvarado, kadar leukosit, temuan operatif, dan hasil histopatologi. Analisis data dilakukan untuk menilai korelasi antara total skor dengan tingkat keparahan inflamasi. Penelitian: Mayoritas pasien adalah perempuan (62,7%) dengan rentang usia dominan dewasa muda. Skor Alvarado 5 merupakan yang paling banyak ditemukan (40,0%). Hasil histopatologi menunjukkan 33 kasus apendisitis subakut dan 11 kasus perforasi. Ditemukan korelasi signifikan antara skor tinggi (≥ 7) dengan temuan perforasi dan infiltrat periapendikular (p < 0,05). Terdapat kasus unik apendisitis granulomatosa tuberkulosa pada pasien dengan skor klinis tinggi. Diskusi: Skor Alvarado memiliki sensitivitas tinggi dalam mendeteksi komplikasi namun menunjukkan keterbatasan pada varian subakut dan pasien lanjut usia di mana respon inflamasi sistemik seringkali tidak selaras dengan kerusakan jaringan. Parameter leukositosis ekstrem (> 30.000/mm^{3}) berkorelasi kuat dengan pembentukan abses masif. Kesimpulan: Skor Alvarado tetap menjadi instrumen triase yang efektif di Indonesia. Penggunaan USG sebagai modalitas tambahan disarankan bagi pasien dengan skor menengah (5-6) untuk mengurangi risiko keterlambatan penanganan pada kondisi perforasi yang tersembunyi.
Copyrights © 2026