Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HIGHER BMI, HIGHER RISK? INVESTIGATING THE LINK BETWEEN OBESITY AND CHOLELITHIASIS ACROSS ASIA: A SYSTEMATIC REVIEW Ario Achwanu Shafa; Bambang Arianto
The International Journal of Medical Science and Health Research Vol. 24 No. 1 (2025): The International Journal of Medical Science and Health Research
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/68st0135

Abstract

Background: Cholelithiasis represents a significant global health burden, with obesity as a major modifiable risk factor. Yet systematic reviews examining BMI-cholelithiasis relationships using WHO-recommended Asian-specific cutoffs (overweight ≥23 kg/m², obese ≥25 kg/m²) remain scarce. This review investigates how elevated BMI relates to cholelithiasis across Asian populations when appropriate thresholds are applied. Methods: Following PRISMA 2020 guidelines, we searched PubMed, Scopus, and Cochrane Library (January 2015-December 2025). Two reviewers independently screened studies using Rayyan.ai and predefined PICOS criteria, with a critical requirement: explicit use of Asian-specific WHO BMI cutoffs. We extracted demographics, BMI-stratified outcomes, and effect estimates, then assessed quality using Newcastle-Ottawa Scale. Results: Of 366 studies screened, only four met inclusion criteria—spanning Korea, Taiwan, China, and Indonesia with sample sizes from 124 to over 724,000 participants. All four demonstrated consistent BMI-cholelithiasis associations: effect sizes ranged from modest (OR 1.5-2.0) to substantial (OR >5.0) for high-risk groups. We identified a dose-response relationship of 4.2% increased odds per 1 kg/m² BMI increment. Metabolically abnormal obese individuals under 50 years faced particularly dramatic risk (OR 5.41). Female sex, younger age, and specific ethnicities further amplified susceptibility. Conclusion: Elevated BMI strongly predicts cholelithiasis when Asian-appropriate thresholds are used. The consistent dose-response relationship and amplified risk in metabolically abnormal individuals demand urgent action. Researchers, clinicians, and policymakers must adopt Asian-specific BMI thresholds to generate and implement effective prevention strategies across Asia's diverse populations.
Akurasi Diagnostik dan Korelasi Klinis Skor Alvarado terhadap Temuan Histopatologi serta Manifestasi Periappendicular Infiltrat: Analisis Retrospektif 75 Kasus di Indonesia Ario Achwanu Shafa; Bambang Arianto
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 25 No. 1 (2026): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/vhf7fr58

Abstract

Pendahuluan: Apendisitis akut merupakan salah satu kegawatdaruratan bedah abdomen yang paling sering ditemukan di Indonesia, yang memerlukan diagnosis cepat untuk mencegah komplikasi seperti perforasi dan peritonitis. Penggunaan sistem skoring seperti Skor Alvarado bertujuan untuk meningkatkan akurasi klinis dan menekan angka apendektomi negatif. Metode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif analitik terhadap 75 pasien yang menjalani apendektomi di sebuah fasilitas kesehatan di Indonesia. Data dikumpulkan dari rekam medis yang mencakup usia, jenis kelamin, parameter Skor Alvarado, kadar leukosit, temuan operatif, dan hasil histopatologi. Analisis data dilakukan untuk menilai korelasi antara total skor dengan tingkat keparahan inflamasi. Penelitian: Mayoritas pasien adalah perempuan (62,7%) dengan rentang usia dominan dewasa muda. Skor Alvarado 5 merupakan yang paling banyak ditemukan (40,0%). Hasil histopatologi menunjukkan 33 kasus apendisitis subakut dan 11 kasus perforasi. Ditemukan korelasi signifikan antara skor tinggi (≥ 7) dengan temuan perforasi dan infiltrat periapendikular (p < 0,05). Terdapat kasus unik apendisitis granulomatosa tuberkulosa pada pasien dengan skor klinis tinggi. Diskusi: Skor Alvarado memiliki sensitivitas tinggi dalam mendeteksi komplikasi namun menunjukkan keterbatasan pada varian subakut dan pasien lanjut usia di mana respon inflamasi sistemik seringkali tidak selaras dengan kerusakan jaringan. Parameter leukositosis ekstrem (> 30.000/mm^{3}) berkorelasi kuat dengan pembentukan abses masif. Kesimpulan: Skor Alvarado tetap menjadi instrumen triase yang efektif di Indonesia. Penggunaan USG sebagai modalitas tambahan disarankan bagi pasien dengan skor menengah (5-6) untuk mengurangi risiko keterlambatan penanganan pada kondisi perforasi yang tersembunyi.