Perkembangan teknologi imersif telah membuka peluang baru dalam pelestarian dan diseminasi warisan budaya, memungkinkan pengalaman museum yang interaktif dan inklusif melampaui batas ruang dan waktu. Penelitian ini mengusulkan dan mengevaluasi pendekatan desain berkelanjutan melalui pengembangan platform museum digital Lamiang Nusantara, yang mengintegrasikan metodologi design sprint dan evaluasi kinerja kuantitatif. Fokus penelitian mencakup perbandingan tiga teknik pemodelan 3D — Luma AI berbasis NeRF, fotogrametri Polycam, dan pemindaian LiDAR — untuk menilai akurasi representasi artefak, ketajaman tekstur, dan kesesuaian untuk konservasi budaya. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Luma AI menghasilkan fidelitas visual tertinggi, Polycam menawarkan kompromi optimal antara kualitas dan aksesibilitas untuk digitalisasi massal, sedangkan LiDAR lebih cocok untuk pemetaan ruang berskala besar daripada detail artefak. Uji coba pengguna yang melibatkan 50 responden menghasilkan tingkat kepuasan rata-rata 2.317 pada kategori “sangat setuju”, menegaskan efektivitas platform dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan budaya. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan model visualisasi imersif yang dapat diskalakan dan mendukung tujuan pelestarian budaya digital serta strategi Smart City. Namun, keterbatasan penelitian mencakup jumlah artefak yang terbatas, ketergantungan pada perangkat pemindaian berbasis ponsel, dan pemrosesan berbasis cloud. Studi selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan artefak, mengintegrasikan teknologi pemindaian yang lebih canggih, serta mengeksplorasi real-time rendering untuk meningkatkan autentisitas dan keberlanjutan platform.
Copyrights © 2025