The phenomenon of the nasal prefix /ŋ-/ (ng-) in Indonesian as used on social media reflects a morphological productivity that marks the language’s evolution in the digital era. This study aims to describe the forms, variations, and functions of the nasal prefix /ŋ-/ in Indonesian social media discourse and to analyze its morphological processes through the framework of generative morphology. Employing a qualitative, descriptive-analytic approach, data were collected from Twitter (X), Instagram, TikTok, and Facebook using digital documentation and purposive sampling techniques. The data were analyzed by identifying affixation and morphophonemic processes involving the nasal prefix /ŋ-/, both as an allomorph of meN- and as a creative linguistic innovation typical of social media. The results reveal that the nasal prefix /ŋ-/ functions as a productive derivational morpheme forming new verbs such as ngopi, ngonten, ngereview, and ngedit. The formation process follows generative morphological principles through derivation and phonological realization mechanisms (spell-out). Moreover, the prefix carries pragmatic value as a marker of informal register and social intimacy among speakers. This study concludes that social media serves as a crucial domain for the development of Indonesian morphology, where the nasal prefix /ŋ-/ represents linguistic creativity and evidence of an adaptive linguistic system in response to digital communication culture. Fenomena penggunaan prefiks nasal /ŋ-/ (ng-) dalam bahasa Indonesia pada media sosial menunjukkan adanya dinamika produktivitas morfologis yang menandai evolusi bahasa di era digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, variasi, dan fungsi prefiks nasal /ŋ-/ dalam bahasa Indonesia pada media sosial, serta menganalisis proses morfologisnya berdasarkan teori morfologi generatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh dari platform Twitter (X), Instagram, TikTok, dan Facebook melalui teknik dokumentasi digital dan purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi proses afiksasi dan morfofonemis yang melibatkan prefiks nasal /ŋ-/ baik sebagai alomorf meN- maupun sebagai bentuk kreatif khas media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prefiks nasal /ŋ-/ telah berfungsi sebagai morfem derivatif produktif dalam membentuk verba baru, seperti ngopi, ngonten, ngereview, dan ngedit. Proses pembentukan tersebut mengikuti kaidah morfologi generatif melalui mekanisme derivasi dan realisasi fonologis (spell-out). Selain itu, prefiks nasal /ŋ-/ juga mengandung nilai pragmatis sebagai penanda register informal dan kedekatan sosial antarpenutur. Penelitian ini menegaskan bahwa media sosial menjadi arena penting dalam perkembangan morfologi bahasa Indonesia, di mana prefiks nasal /ŋ-/ merepresentasikan kreativitas linguistik sekaligus bukti evolusi sistem bahasa yang adaptif terhadap perubahan budaya komunikasi digital.
Copyrights © 2026