MEKOMDA
Vol 3 No 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025

ANTARA IMAJINASI DAN REALITA

Artanti, Desnas (Unknown)



Article Info

Publish Date
15 Aug 2025

Abstract

Abstract Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai-nilai komunikasi Islam dalam fenomena animasi digital Brainrot yang tengah populer di media sosial. Pendekatan yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes dengan mengkaji makna denotatif, konotatif, dan mitos budaya yang muncul dalam video Brainrot di TikTok dan YouTube Shorts. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan fokus pada interpretasi simbol visual, suara, dan teks yang merefleksikan nilai moral dalam komunikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Brainrot merepresentasikan bentuk komunikasi digital yang kehilangan arah moral dan spiritualitas. Dominasi unsur humor absurd, visual hiperaktif, dan pesan instan menggambarkan krisis makna komunikasi di era modern. Dalam perspektif Islam, fenomena ini bertentangan dengan prinsip qaulan sadidan (perkataan benar), tabayyun (verifikasi), dan niyyah (niat tulus) sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Analisis ini menemukan bahwa integrasi etika Islam dalam budaya digital penting untuk membangun komunikasi yang bermakna, berkeadaban, dan manusiawi. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi komunikasi Islam yang adaptif terhadap dinamika media digital serta menawarkan kerangka etik dalam menghadapi konten hiburan yang destruktif secara moral. Kata Kunci: komunikasi Islam, semiotika, Brainrot, budaya digital, etika komunikasi Abstract This study aims to analyze the representation of Islamic communication values in the phenomenon of Brainrot digital animation that has recently become popular on social media. The approach employed is Roland Barthes’ semiotic analysis, examining denotative, connotative, and cultural myth meanings that emerge in Brainrot videos on TikTok and YouTube Shorts. This research adopts a descriptive qualitative method, focusing on the interpretation of visual symbols, sound, and textual elements that reflect moral values in digital communication. The findings indicate that Brainrot represents a form of digital communication that has lost its moral direction and spiritual depth. The dominance of absurd humor, hyperactive visuals, and instant messaging reflects a crisis of meaning in contemporary communication. From an Islamic perspective, this phenomenon contradicts the principles of qaulan sadidan (truthful speech), tabayyun (verification), and niyyah (sincere intention), as elaborated in Quraish Shihab’s Tafsir al-Misbah. This analysis reveals that the integration of Islamic ethics into digital culture is essential for fostering meaningful, ethical, and humane communication. This study contributes to the development of Islamic communication studies that are adaptive to the dynamics of digital media and offers an ethical framework for responding to morally destructive entertainment content. Keywords: Islamic communication, semiotics, Brainrot, digital culture, communication ethics

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

mekomda

Publisher

Subject

Education Languange, Linguistic, Communication & Media Social Sciences

Description

Jurnal MEKOMDA : Media Komunikasi Dakwah merupakan jurnal Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Jurnal Media Komunikasi Dakwah menyediakan artikel ilmiah hasil penelitian empiris dan analisis-reflektif bagi para praktisi dan akademisi, ...