Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RESEPSI AUDIENS TERHADAP DAKWAH HUMANIS DI INSTAGRAM: ANALISIS KONTEN REFLEKTIF AKUN INSTAGRAM @SANTOSIM: ANALISIS KONTEN REFLEKTIF AKUN INSTAGRAM @SANTOSIM Artanti, Desnas; Saefullah, Aris
Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 9 No. 2 (2025): Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/hjh.v9i2.1910

Abstract

Abstrak Perkembangan media sosial telah mendorong pergeseran dakwah menuju pendekatan yang lebih dialogis dan humanis di ruang digital. Penelitian ini menganalisis resepsi audiens terhadap dakwah humanis yang disampaikan melalui akun Instagram @santosim, yang menonjolkan nilai refleksi, empati, dan spiritualitas keseharian. Menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif melalui analisis isi netnografis, penelitian ini mengamati interaksi audiens pada kolom komentar, like, dan share. Hasil penelitian menunjukkan tiga bentuk resepsi utama: afirmatif, introspektif, dan partisipatoris. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan dakwah humanis tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi oleh kemampuan membangun ruang dialogis yang memungkinkan audiens turut membentuk makna dakwah. Dakwah humanis potensial memperkuat spiritualitas inklusif dan moderasi beragama di media digital. Kata Kunci: dakwah humanis, resepsi audiens, netnografi, media sosial Abstract Social media has encouraged a shift in Islamic preaching toward more dialogical and humanistic approaches in digital public spheres. This study analyzes audience reception of humanistic dakwah conveyed through the Instagram account @santosim, which emphasizes reflection, empathy, and everyday spirituality. Using a qualitative interpretive approach and netnographic content analysis, audience interactions through comments, likes, and shares were examined. The findings reveal three dominant reception types: affirmative, introspective, and participatory. The study highlights that the effectiveness of humanistic dakwah lies not only in message content but in its ability to construct dialogical digital spaces that enable shared meaning-making between creator and audiences. Humanistic dakwah has strategic potential in promoting inclusive spirituality and religious moderation within digital environments. Keywords: humanistic dakwah, audience reception, netnography, social media
ANTARA IMAJINASI DAN REALITA Artanti, Desnas
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol 3 No 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v1i1.2508

Abstract

Abstract Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai-nilai komunikasi Islam dalam fenomena animasi digital Brainrot yang tengah populer di media sosial. Pendekatan yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes dengan mengkaji makna denotatif, konotatif, dan mitos budaya yang muncul dalam video Brainrot di TikTok dan YouTube Shorts. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan fokus pada interpretasi simbol visual, suara, dan teks yang merefleksikan nilai moral dalam komunikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Brainrot merepresentasikan bentuk komunikasi digital yang kehilangan arah moral dan spiritualitas. Dominasi unsur humor absurd, visual hiperaktif, dan pesan instan menggambarkan krisis makna komunikasi di era modern. Dalam perspektif Islam, fenomena ini bertentangan dengan prinsip qaulan sadidan (perkataan benar), tabayyun (verifikasi), dan niyyah (niat tulus) sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Analisis ini menemukan bahwa integrasi etika Islam dalam budaya digital penting untuk membangun komunikasi yang bermakna, berkeadaban, dan manusiawi. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi komunikasi Islam yang adaptif terhadap dinamika media digital serta menawarkan kerangka etik dalam menghadapi konten hiburan yang destruktif secara moral. Kata Kunci: komunikasi Islam, semiotika, Brainrot, budaya digital, etika komunikasi Abstract This study aims to analyze the representation of Islamic communication values in the phenomenon of Brainrot digital animation that has recently become popular on social media. The approach employed is Roland Barthes’ semiotic analysis, examining denotative, connotative, and cultural myth meanings that emerge in Brainrot videos on TikTok and YouTube Shorts. This research adopts a descriptive qualitative method, focusing on the interpretation of visual symbols, sound, and textual elements that reflect moral values in digital communication. The findings indicate that Brainrot represents a form of digital communication that has lost its moral direction and spiritual depth. The dominance of absurd humor, hyperactive visuals, and instant messaging reflects a crisis of meaning in contemporary communication. From an Islamic perspective, this phenomenon contradicts the principles of qaulan sadidan (truthful speech), tabayyun (verification), and niyyah (sincere intention), as elaborated in Quraish Shihab’s Tafsir al-Misbah. This analysis reveals that the integration of Islamic ethics into digital culture is essential for fostering meaningful, ethical, and humane communication. This study contributes to the development of Islamic communication studies that are adaptive to the dynamics of digital media and offers an ethical framework for responding to morally destructive entertainment content. Keywords: Islamic communication, semiotics, Brainrot, digital culture, communication ethics