Banjir bandang Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Sumatra (25-30 November 2025) picu kerugian Rp68T, isolasi wilayah, kelaparan massal, dan dinamika komunikasi politik via aksi Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) angkat karung beras viral (81K like, 104K komentar). Penelitian kualitatif analisis konten tematik (15 video/postingan Instagram, triangulasi BNPB/PAN/netizen) pakai Teori Dramaturgi Goffman ungkap front stage solidaritas (props beras 15kg, narasi "aduh berat", gestur rangkul anak, engagement positif 85% awal) kontras back stage bocor (tuduhan pencitraan rekam jejak kehutanan 1,6 juta ha sawit, kondangan mewah "plot twist", sindiran Rocky Gerung, 68% komentar negatif "sok pahlawan") . Temuan: Impression management gagal akibat akselerasi bocor digital (<24 jam vs era analog), decay engagement 72%, embarrassment PAN (rating -15%), netizen auditor kritis hubungkan performa dengan kebijakan lingkungan akar banjir (deforestasi 690K ha Sumatra). Implikasi teoritis: Model Aceh 2025 adaptasi Goffman untuk krisis digital Indonesia, ubah audiens pasif jadi auditor aktif. Praktis: Pejabat 2026 prioritaskan live-stream logistik real-time, hindari props repetitif, team inklusif lokal pulihkan trust.
Copyrights © 2026