Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi masyarakat Yogyakarta terhadap fenomena "klitih," suatu bentuk kenakalan remaja yang kerap melibatkan kekerasan tanpa motif ekonomi atau pribadi yang jelas. Data diperoleh melalui survei, wawancara mendalam, dan studi literatur yang melibatkan partisipan dengan latar belakang usia, pendidikan, dan profesi yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat memandang klitih sebagai ancaman serius terhadap keamanan dan ketertiban umum, dengan faktor penyebab utama meliputi kurangnya perhatian keluarga, pengaruh lingkungan sosial, dan budaya kekerasan dari media. Dari perspektif sosiologis, fenomena klitih dapat dijelaskan melalui Teori Differential Association oleh Edwin Sutherland dan Teori Strain oleh Robert K. Merton, di mana perilaku menyimpang ini berkembang sebagai hasil interaksi sosial negatif dan ketidaksesuaian antara tujuan hidup dengan akses terhadap sarana yang legal. Upaya penanggulangan fenomena ini memerlukan pendekatan represif dan preventif, dengan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah, serta kepolisian dalam meningkatkan pengawasan dan penyuluhan bagi generasi muda. Langkah-langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi masyarakat Yogyakarta.
Copyrights © 2025