Fraktur merupakan kondisi hilangnya kontinuitas tulang yang memerlukan penanganan bedah dan terapi analgesik. Penelitian ini menganalisis efektivitas biaya terapi analgesik pada pasien pasca bedah fraktur di RSUD Dr. Harjono Ponorogo. Desain penelitian deskriptif retrospektif dengan sampel 100 rekam medis pasien periode Maret–November 2024. Data dianalisis menggunakan perhitungan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil menunjukkan mayoritas pasien laki-laki (57%) berusia 56–65 tahun (21%). Ketorolak menjadi analgesik paling banyak digunakan (78%) dan paling efektif (82,02% pasien mencapai NRS <4). Meskipun biaya medis langsung tertinggi (Rp2.888.764), Ketorolak memiliki ACER terendah (Rp3.522), menunjukkan cost-effectiveness terbaik dibanding Santagesik (ACER Rp21.309) dan Rativol (ACER Rp44.735). Kesimpulan: Ketorolak merupakan analgesik paling cost-effective untuk pasien pasca bedah fraktur. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam pemilihan terapi analgesik yang optimal.
Copyrights © 2025