Katarak didefinisikan sebagai hilangnya transparansi lensa akibat terjadinya opasifikasi pada lensa. Pembedahan merupakan satu-satunya pilihan pengobatan untuk katarak yang menyebabkan gangguan visual yang signifikan. Antibiotik sebagai profilaksis pra-operasi diberikan kepada pasien sebelum prosedur. WHO (2020) melaporkan sekitar 285 juta orang mengalami gangguan penglihatan, dengan 39 juta mengalami kebutaan, di mana 81% disebabkan oleh katarak. Di Indonesia, prevalensi kebutaan mencapai 3%, dan katarak menjadi penyebab terbanyak dengan sekitar 1,7 juta kasus. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien operasi katarak di RSUD Kota Madiun. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan menggunakan metodologi retrospektif berdasarkan data rekam medis. Kriteria inklusi yang digunakan yaitu pasien berusia 18–80 tahun, menjalani operasi katarak, dan mendapatkan antibiotik profilaksis. Hasil penelitian ini pasien bedah katarak di RSUD Kota Madiun terbanyak berdasarkan berjenis kelamin perempuan 56 pasien (56,0%) dan usia paling banyak di rentang usia masa lansia awal (46–55 Tahun) 36 pasien (36,0%). Penggunaan antibiotik adalah genoint sebanyak 75 pasien (75,0 %) dan optiflox sebanyak 25 pasien (25,0%). Efektivitas penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien yang menjalani bedah katarak di RSUD Kota Madiun adalah 100 pasien (100%). Kesimpulannya, penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien pasca bedah katarak di RSUD Kota Madiun terbukti efektif dalam mencegah infeksi pascaoperasi.
Copyrights © 2025