Penelitian ini bertujuan mengkaji sebaran spasial dan perubahan fungsi bangunan cagar budaya kolonial di Kota Lama Semarang pasca revitalisasi serta perannya dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Objek penelitian mencakup bangunan kolonial, baik yang telah direvitalisasi maupun yang belum, di Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Utara. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan masyarakat, pelaku usaha, pengelola, wisatawan, serta dokumentasi serta sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan alih fungsi bangunan kolonial menjadi kafe, museum, galeri seni, ruang publik, dan area komersial yang mendorong tumbuhnya UMKM serta peningkatan kunjungan wisatawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi Kota Lama mampu mengintegrasikan pelestarian sejarah dengan pengembangan ekonomi kreatif, meskipun masih terdapat tantangan terkait komersialisasi berlebihan, partisipasi masyarakat, dan keterbatasan perawatan bangunan. ABSTRACT This research aims to examine the spatial distribution and functional transformation of colonial heritage buildings in Kota Lama Semarang after revitalization and their role in supporting sustainable tourism. The study applied a descriptive qualitative method combined with spatial analysis using Geographic Information Systems (GIS). The object of research includes both revitalized and non-revitalized colonial buildings located in Semarang Tengah and Semarang Utara Districts. Data were collected through field observation, semi-structured interviews, documentation, and secondary sources. The results indicate that colonial buildings have been adaptively reused as cafes, museums, art galleries, public spaces, and commercial areas, which encourage the growth of local creative economy and increase tourist visits. This study concludes that revitalization successfully integrates heritage preservation with creative economy development, although challenges remain in terms of over-commercialization, limited community participation, and restricted maintenance budgets.
Copyrights © 2025