Penelitian ini membahas keberadaan tiga benteng tinggalan kolonial Inggris di Bengkulu, yaitu Benteng Marlborough, Benteng Anna, dan Benteng Linau, dalam perspektif historis dan filosofis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah yang melibatkan tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Fokus utama adalah menganalisis pelestarian fisik dan pemaknaan filosofis dari ketiga benteng tersebut di tengah masyarakat lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa Benteng Marlborough masih berdiri kokoh dan dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme serta dijadikan ikon wisata Kota Bengkulu. Benteng Anna mengalami kerusakan berat akibat penjarahan dan dianggap sebagai bentuk penolakan masyarakat terhadap kembalinya kekuasaan kolonial. Sementara itu, Benteng Linau sudah tidak tersisa secara fisik dan keberadaannya mulai diliputi mitos masyarakat sebagai bentuk perlindungan dari eksploitasi liar. Ketimpangan dalam pelestarian fisik berdampak langsung pada hilangnya nilai filosofis yang melekat. Penelitian ini menegaskan pentingnya revitalisasi nilai-nilai historis-filosofis sebagai bagian dari upaya pelestarian cagar budaya tinggalan kolonial yang masih tersisa di Indonesia, khususnya Bengkulu.
Copyrights © 2025