Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru sebagai Hybrid Teacher yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan daring serta sebagai konten kreator dalam meningkatkan hasil pendidikan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi kasus. Penelitian ini dilakukan di SMK NU Darussalam Rejoagung, Srono, Banyuwangi, Indonesia. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, dan analisis audio, sementara analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber, metode, dan pengamat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang mengadopsi model Hybrid Teacher mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui pemanfaatan konten digital yang menarik dan interaktif. Namun, terdapat kendala seperti rendahnya keterampilan teknologi guru, keterbatasan infrastruktur, dan kesenjangan akses digital di kalangan siswa karena sekolah ini berbasis pesantren dan mengikuti kebijakan dari yayasan yang membatasi penggunaan internet dan media pembelajaran berbasis teknologi digital. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan intensif dan dukungan kebijakan pendidikan untuk optimalisasi peran hybrid teacher. Kontribusi penelitian ini memberikan wawasan bagi pengambil kebijakan dan institusi pendidikan dalam merancang strategi pengembangan guru di era digital. Model Hybrid Teacher dapat menjadi solusi inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif, fleksibel, dan efektif.
Copyrights © 2025