Makalah ini membahas integrasi antara agama dan sains melalui studi kasus kehidupan dan pemikiran Prof. Muhammad Abdus Salam. Pendahuluan membahas pentingnya peran agama sebagai pedoman moral dan sains sebagai sumber pengetahuan, serta tantangan paradigma dalam menyatukan keduanya. Pendidikan awal, inklusi ke dalam Jamaah Ahmadiyyah, karier ilmiahnya di Cambridge dan Imperial College, serta penghargaan Nobel Fisika 1979 berkat teori elektrolemah. Juga ditekankan bagaimana ia memadukan keyakinan religius dengan pencapaian ilmiah, termasuk pengalaman diskriminatif di Pakistan karena keyakinannya. Menguraikan pandangan Salam tentang integrasi agama dan sains: Ia meyakini bahwa keserasian prinsip universal dalam alam mencerminkan nilai-nilai spiritual dari Al-Qur’an, serta menekankan perlunya pendidikan Islam yang mengombinasikan iman dan ilmu pengetahuan. Salam juga menerapkan nilai-nilai tersebut melalui pendirian lembaga internasional seperti ICTP dan TWAS untuk mendukung ilmuwan dari negara berkembang. Jurnal ini menyoroti bahwa bagi Salam, sains dan agama merupakan dua sayap yang membangun harmoni iman dan rasionalitas. Ia menekankan pentingnya kurikulum interdisipliner dan komunitas ilmiah yang etis dan religius agar generasi mendatang dapat berkontribusi secara akademik maupun spiritual. Rekomendasi diakhiri dengan pentingnya perbaikan akademik dan sistematika penulisan untuk memperkuat makalah ini.
Copyrights © 2025