Artikel ini membahas epistemologi Bayani sebagai pendekatan utama dalam tradisi keilmuan Islam, yang berfokus pada otoritas teks (Al-Qur’an dan Hadis) serta metodologi linguistik dan analogi (qiyas) dalam menghasilkan pengetahuan. Meskipun historisnya menjadi fondasi dalam pengembangan fiqh, tafsir, dan ushul fiqh, pendekatan Bayani kini menghadapi tantangan relevansi di era modern, terutama terkait dengan kritik terhadap sifatnya yang tekstual dan kurang adaptif terhadap perubahan sosial dan ilmiah. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis konseptual terhadap struktur filosofis dan metodologis Bayani serta menilai potensinya dalam merespons kompleksitas zaman kontemporer. Melalui pendekatan studi pustaka dan analisis kritis, artikel ini menemukan bahwa epistemologi Bayani memiliki potensi besar untuk direvitalisasi dengan cara diintegrasikan secara kreatif bersama pendekatan Burhani (rasional) dan Irfani (spiritual). Hasil kajian menunjukkan bahwa sintesis epistemologis ini dapat memperkaya paradigma keilmuan Islam yang lebih kontekstual, reflektif, dan inklusif terhadap dinamika zaman. Temuan ini diharapkan berkontribusi dalam pengembangan metodologi ilmu keislaman yang lebih adaptif dan relevan bagi masyarakat Muslim kontemporer.
Copyrights © 2025