Kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari sistem kesehatan masyarakat, namun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan di wilayah yang sarat dengan dinamika sosial budaya, seperti Kabupaten Luwu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam persepsi masyarakat dan praktik petugas kesehatan dalam implementasi program kesehatan jiwa, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus intrinsik, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, melibatkan informan dari kalangan masyarakat pengguna layanan dan petugas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap gangguan jiwa masih dipengaruhi oleh stigma, ketakutan, dan pemahaman tradisional, meskipun mulai bergeser ke arah pandangan yang lebih rasional dan psikososial. Pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas semakin diterima, didukung oleh keterlibatan petugas, tokoh masyarakat, serta pendekatan yang peka budaya. Namun, hambatan masih ditemukan dalam bentuk penolakan keluarga, minimnya dukungan pemerintah daerah, serta dominasi praktik pengobatan non-medis. Transformasi sosial budaya dalam memahami gangguan jiwa terjadi secara bertahap melalui peran edukatif petugas kesehatan dan tokoh lokal. Keberhasilan implementasi program sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas aktor, pendekatan kontekstual, dan penguatan dukungan sosial. Diperlukan strategi berkelanjutan yang menggabungkan intervensi medis dengan nilai budaya lokal guna menciptakan sistem layanan kesehatan jiwa yang lebih inklusif dan berdaya guna.
Copyrights © 2025