Furunkel hidung, infeksi akut folikel rambut di vestibulum nasi yang utamanya disebabkan Staphylococcus aureus, berisiko serius karena kedekatannya dengan vena fasialis dan sinus kavernosus, memicu komplikasi seperti trombosis sinus kavernosus. Studi terkini menyoroti faktor lingkungan seperti polusi PM2.5 dan debu industri yang melemahkan barier mukosa hidung serta menginduksi disbiosis mikrobiota. Tinjauan naratif ini mensintesis literatur 2020-2025 untuk menguraikan interaksi ini. Penelitian bertujuan menguraikan kontribusi risiko lingkungan terhadap furunkel hidung melalui bukti klinis, epidemiologis, dan eksperimental, fokus pada interaksi host-mikrobiota-lingkungan. Menggunakan metode narrative review kualitatif, pencarian dilakukan di PubMed, Scopus, Google Scholar, dan ScienceDirect dengan kata kunci seperti "furunkel hidung" dan "faktor risiko lingkungan". Populasi adalah artikel peer-reviewed (2020-2025); sampel studi memenuhi kriteria inklusi (etiology, patogenesis). Instrumen pencarian literatur elektronik; analisis data sintesis naratif dan pengelompokan tematik. Hasil menunjukkan PM2.5 memicu disbiosis nasal, stres oksidatif, dan gangguan clearance mukosilier, bersinergi dengan faktor host seperti diabetes meningkatkan dominasi S. aureus dan kekambuhan. Kesimpulannya, pencegahan memerlukan pendekatan holistik di luar antibiotik, termasuk pengendalian polusi, edukasi higienis, dan modulasi mikrobiota untuk kurangi komplikasi.
Copyrights © 2025