Penelitian ini menganalisis fenomena cancel culture dalam film Oshi No Ko (Live Action) dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Film sendiri sebagai media audio visual memiliki kemampuan untuk membangun makna, membentuk persepsi, serta merepresentasikan fenomena sosial yang berkembang di era digital. Cancel culture adalah fenomena sosial yang ditandai dengan penghakiman massal, ujaran kebencian, dan tekanan psikologis terhadap public figure melalui media sosial. Film Oshi No Ko (Live Action) dipilih sebagai objek penelitian karena secara eksplisit menunjukkan sisi gelap dari industri hiburan, khususnya bagaimana konstruksi media dan opini publik berdampak pada kondisi psikologis seorang public figure muda, yang direpresentasikan melalui karakter Akane. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Roland Barthes yang mencakup makna denotatif, konotatif, dan mitos. Data diperoleh melalui observasi mendalam terhadap adegan-adegan film yang relevan dengan isu cancel culture serta dokumentasi visual berupa tangkapan layar, didukung oleh studi literatur dari jurnal ilmiah dan sumber terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa cancel culture direpresentasikan melalui simbol visual, narasi media, dan ekspresi karakter yang menegaskan adanya hukuman sosial, tekanan emosional, serta kerentanan psikologis. Pada tingkat mitos, film ini membangun pemaknaan bahwa media dan opini publik memiliki kuasa besar dalam membentuk realitas sosial dan menentukan nilai individu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian semiotika dan komunikasi visual dalam memahami representasi isu sosial kontemporer pada media film.
Copyrights © 2026