Masa remaja merupakan periode transisi yang krusial dalam pembentukan perilaku kesehatan, termasuk perilaku kesehatan reproduksi. Salah satu aspek penting kesehatan reproduksi remaja putri adalah manajemen kebersihan menstruasi (MKM). Praktik MKM yang tidak tepat masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena berdampak pada meningkatnya risiko infeksi saluran reproduksi, gangguan psikososial, serta ketidakhadiran di sekolah. Pemahaman terhadap faktor-faktor perilaku yang memengaruhi MKM diperlukan untuk merancang intervensi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku manajemen kebersihan menstruasi pada remaja putri di SMA Negeri 1 Raha berdasarkan konstruk Health Belief Model (HBM). Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian berjumlah 125 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur perilaku MKM dan enam konstruk HBM, yaitu persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat bertindak, dan efikasi diri. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa seluruh konstruk Health Belief Model berhubungan secara signifikan dengan perilaku MKM (p < 0,05). Pada analisis multivariat, hanya isyarat bertindak (OR = 9,84; 95% CI: 3,96–24,42) dan persepsi kerentanan (OR = 6,12; 95% CI: 2,48–15,10) yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku MKM. Isyarat bertindak merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi perilaku MKM. Perilaku manajemen kebersihan menstruasi pada remaja putri lebih dipengaruhi oleh adanya dorongan eksternal dan kesadaran terhadap risiko kesehatan dibandingkan faktor kognitif lainnya. Upaya peningkatan perilaku MKM perlu difokuskan pada penguatan isyarat bertindak melalui edukasi kesehatan berbasis sekolah, dukungan sosial, serta peningkatan persepsi kerentanan remaja putri terhadap risiko kesehatan menstruasi.
Copyrights © 2026