Gagal ginjal kronik merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal secara progresif yang mengakibatkan akumulasi sisa metabolisme berupa uremia dan gangguan keseimbangan cairan elektrolit permanen, sehingga memerlukan terapi hemodialisa jangka panjang. Penelitian sebelumnya menunjukkan mayoritas pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa mengalami gangguan activity daily living berkisar 50,6%–68,7%, dipengaruhi oleh faktor usia lanjut, durasi hemodialisa, komorbiditas diabetes melitus dan hipertensi, serta dampak fisiologis dan psikologis prosedur dialisis. Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tercatat 65 pasien aktif menjalani hemodialisa pada periode Januari hingga Juli 2024, namun belum tersedia data spesifik mengenai gambaran kemandirian activity daily living pasien tersebut. Keterbatasan ADL yang tidak tertangani secara komprehensif dapat memperburuk kualitas hidup, meningkatkan ketergantungan total, memicu depresi, isolasi sosial, serta berkontribusi terhadap peningkatan risiko mortalitas pada populasi pasien hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran activity daily living pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2024, guna memberikan informasi berbasis bukti bagi pengembangan intervensi keperawatan yang tepat dan holistik. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 65 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Indeks Katz terdiri dari 17 pertanyaan mencakup enam item aktivitas dasar yaitu mandi, berpakaian, BAB/BAK, berpindah tempat, pengambilan keputusan, dan makan, dengan kategorisasi mandiri total (skor 12–17), dibantu (skor 6–11), dan bergantung (skor 0–5). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori ADL dibantu sebesar 44,6% (29 orang), mandiri total 36,9% (24 orang), dan bergantung 18,5% (12 orang). Karakteristik demografi menunjukkan dominasi kelompok usia 56–65 tahun (35,4%), berjenis kelamin laki-laki (61,5%), berprofesi wiraswasta (40,0%), dan telah menjalani hemodialisa lebih dari 24 bulan (36,9%). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kemandirian activity daily living pasien gagal ginjal kronik perlu ditingkatkan melalui program fisioterapi terstruktur, edukasi perawatan diri, dukungan psikososial, serta penguatan peran keluarga guna mengoptimalkan kemandirian fungsional dan kualitas hidup pasien hemodialisa secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026