Penelitian ini menganalisis penerapan konsep embeddedness dan bentuk integrasi ekonomi ala Polanyi di Desa Wisata Sumber Maron, Karangsuko, Malang. Berbeda dengan asumsi pasar bebas, aktivitas ekonomi di desa ini tidak digerakkan semata oleh logika keuntungan, melainkan sangat tertanam dalam struktur sosial, norma budaya, dan kelembagaan lokal yang kuat. Model dominan adalah resiprositas, terlihat dari praktik gotong royong dalam pembangunan fasilitas wisata dan harmoni antar pedagang. Redistribusi terjadi melalui peran sentral BUMDes yang mengelola pendapatan kolektif untuk pembangunan dan kesejahteraan warga. Pertukaran pasar hadir namun dibatasi oleh kesepakatan dan nilai-nilai komunitas. Studi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan ekonomi Wisata Sumber Maron bergantung pada penguatan solidaritas sosial dan institusi lokal, menawarkan model pembangunan desa yang inklusif dan berkeadilan. Kata kunci: Desa Wisata, Partisipasi, Pengembangan Ekonomi Lokal, Ekonomi Inklusif, Ekonomi Komunitas
Copyrights © 2025