Stunting dan tuberkulosis (TBC) merupakan dua masalah kesehatan yang saling terkait lewat siklus gizi‑infeksi yang dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan kognitif, dan produktivitas nasional. Studi ini meneliti data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 untuk menemukan celah kebijakan dan peluang menggabungkan intervensi stunting‑TBC. Studi ini memakai desain potong lintang dan mencakup sekitar 345.000 rumah tangga menggunakan analisis deskriptif, analisis spasial, dan regresi logistik. Hasilnya menunjukkan prevalensi stunting pada balita sebesar, 21,5% dan TBC sebesar 1,7%, terutama pada rumah tangga berpendidikan rendah, berstatus sosial ekonomi rendah, dan tinggal di pedesaan. Rendahnya cakupan imunisasi (74,1%), akses sanitasi aman (9,3%), dan konsumsi vitamin A (85,2%) memperburuk beban ganda tersebut. Keterpisahan kebijakan penurunan stunting dan pengendalian TBC menyebabkan inefisiensi program. Diperlukan penguatan layanan primer melalui skrining terpadu di Posyandu dan Puskesmas, pemanfaatan data SSGI dan SITT untuk penentuan prioritas, serta intervensi berbasis keadilan sosial guna mempercepat eliminasi TBC tahun 2030 dan penurunan stunting hingga 14,2% pada 2029 menuju Generasi Emas Indonesia 2045.Kata Kunci: stunting; tuberkulosis; siklus gizi-infeksi; kebijakan kesehatan; Generasi Emas 2045
Copyrights © 2026