Dalam Al-Qur’an, kecemasan dipahami sebagai bagian dari sifat dasar manusia yang diekspresikan melalui istilah khauf (takut), khasyah (takut), huzn (sedih), halu’a (gelisah), dan dhayq (sempit). Penelitian ini bertujuan untuk menganalis aspek-aspek kecemasan berlebihan, faktor-faktor, serta solusi terapi berdasarkan perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan kepustakaan. Data utama berasal dari Tafsir Al-Munir karya Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, dan Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr karya Ibn ‘Āsyūr yang didukung oleh literatur sekunder tentang kecemasan berlebihan dan tafsir Al-Qur’an. Pengumpulan data dilakukan melalui kajian literatur mendalam, yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan berlebihan (Anxiety Disorder) dalam perspektif Al-Qur’an merupakan fenomena yang melibatkan aspek fisiologis (Q.S An-Nahl: 127), behavioral (Q.S Ali Imran: 175) dan kognitif (Q.S Al-Ma’arij: 19; Ali Imran: 139) yang meliputi dua faktor utama sebagai pemicu kecemasan. Pertama, pengalaman buruk di masa lalu seperti yang dialami Nabi Ya’qub ketika kehilangan Nabi Yusuf (QS. Yusuf: 84). Kedua, pikiran irasional yang membuat manusia cenderung berprasangka buruk terhadap masa depan (QS. Al-Isra: 31). Al-Qur’an juga menawarkan solusi melalui penguatan keimanan seperti tawakal (QS. Al-Baqarah: 216), dzikir dan doa (QS. Ar-Ra’d: 28; QS. An-naml: 62), melaksanakan shalat (QS. Al-Baqarah: 277), membaca Al-Qur’an (QS. Al-Isra: 82), muhasabah/mindfulness (QS. Al-Hasyr: 18), thought stopping (QS. Al-A’raf: 200), problem-solving (QS. Asy-Syarh: 5-6), Exposyre therapy (Al-Baqarah: 286), sebagai terapi efektif dalam membantu individu mengelola kecemasan.
Copyrights © 2026