Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teoretis hubungan antara penggunaan bahasa inklusif dan kesejahteraan emosional anak dalam perspektif psikolinguistik. Bahasa inklusif adalah pendekatan komunikasi yang mendidik, tidak menghakimi, dan menghargai keberagaman emosi anak. Melalui studi kepustakaan terhadap literatur nasional dan internasional, penelitian ini menganalisis peran bahasa sebagai stimulus emosional, alat regulasi emosi, dan konstruksi identitas emosional anak dalam konteks pendidikan PAUD. Analisis tematik digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola konseptual yang menunjukkan bahwa bahasa inklusif berkontribusi terhadap rasa aman, kepercayaan diri, dan keterlibatan sosial anak. Hasil kajian mengungkapkan tiga tema utama; (1) bahasa sebagai stimulasi emosional (2) bahasa inklusif dan regulasi emosi anak (peran guru dan lingkungan belajar) (3) membangun identitas emosional anak melalu bahasa yang mendidik dan tidak menghakimi. Temuan ini menunjukkan bahwa guru memiliki peran utama dalam menerapkan bahasa inklusif dalam praktik pembelajaran yang mendukung kesejahteraan emosional anak. Penelitian ini merekomendasikan integrasi bahasa inklusif dalam pelatihan guru, pengembangan kurikulum, dan kebijakan pendidikan anak usia dini sebagai strategi preventif terhadap gangguan emosional dan sebagai fondasi pembentukan karakter anak yang empatik dan resilien.Kata kunci - Bahasa Inklusif; Kesejahteraan Emosional; Psikolinguistik; Regulasi Diri
Copyrights © 2026