Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk dan fungsi gaya bahasa pertentangan dalam novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar karya Tere Liye serta menjelaskan kontribusinya terhadap penyampaian pesan politis. Data penelitian berupa 39 kutipan teks yang dianalisis menggunakan teori gaya bahasa pertentangan Tarigan (2013), meliputi sinisme (20 kutipan), ironi (7), hiperbola (6), sarkasme (5), dan litotes (1). Setiap kutipan dianalisis secara kontekstual berdasarkan penutur, lawan tutur, situasi, dan perannya dalam membangun makna naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa pertentangan digunakan secara konsisten untuk menghadirkan kritik tajam terhadap praktik kekuasaan dan korupsi, menegaskan konflik antara rakyat dan pejabat, serta memperkuat ketegangan emosional antar tokoh. Dengan demikian, gaya bahasa pertentangan tidak sekadar berfungsi sebagai unsur estetis, melainkan juga sebagai instrumen retorik utama yang mempertegas kritik sosial-politik Tere Liye. Temuan ini berkontribusi pada kajian stilistika dengan memberikan pemahaman baru mengenai fungsi gaya bahasa dalam sastra kontemporer Indonesia, sekaligus menawarkan model analisis yang dapat diaplikasikan pada penelitian serupa.
Copyrights © 2026