Indonesia memiliki keberagaman budaya, agama dan gender yang kompleks, namun buku teks sejarah kurikulum merdeka ada ketimpangan merepresentasikan dimensi multikultural. Masalah ini penting karena buku teks mendorong pemahaman siswa tentang keberagaman dan identitas nasional. Penelitian untuk menganalisis narasi wacana multikultural dalam buku teks sejarah kelas XI dari tiga penerbit, yaitu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Gramedia dan Erlangga. Jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis wacana kritis Norman Fairclough. Data dipilih purposive berdasarkan kredibilitas penerbit dan penggunaan luas di sekolah. Pengumpulan data melalui studi dokumen dengan mengidentifikasi segmen narasi yang merepresentasikan keberagaman agama, gender dan budaya. Analisis data mengikuti kerangka tiga dimensi CDA Fairclough, yakni analisis tekstual, praktik diskursif dan praktik sosial. Keabsahan data melalui triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan ketimpangan representasi hierarkis seperti dimensi budaya terepresentasi paling komprehensif dan kohesif, dimensi agama terfragmentasi dengan dominasi narasi Islam-Kristen dan absen pada momen proklamasi kemerdekaan, sementara dimensi gender menunjukkan pola tokenistik dengan representasi perempuan yang sporadis dan terbatas pada penggambaran dalam ranah domestik dan simbolik. Temuan mengungkap hegemoni nasionalisme multikulturalisme inklusif terhadap budaya, hegemoni sekularisme yang membatasi narasi keagamaan dan hegemoni patriarki yang meminggirkan perspektif gender.
Copyrights © 2026