Penelitian ini mendeskripsikan standar prioritas pemangku kepentingan organisasi dakwah berdasarkan studi kasus peristiwa yang melatarbelakangi turunnya QS. ‘Abasa 1–17. Kajian terhadap ayat tersebut selama ini cenderung berfokus pada aspek pendidikan dan inklusivitas bagi kaum difabel, sedangkan studi ini menegaskan adanya pelajaran mengenai praktik komunikasi organisasi. Penelitian berangkat dari asumsi bahwa kegiatan dakwah Nabi Muhammad berlangsung secara terorganisir. Teori stakeholder mapping digunakan sebagai pisau analisis dengan penekanan pada kuadran power–interest, attitude, dan relasi kuasa antarpemangku kepentingan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari kajian Asbabun Nuzul, tafsir, dan sumber sejarah yang memuat profil pemangku kepentingan terkait peristiwa tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa subject yang memiliki interest tinggi, power rendah, dan sikap positif jauh lebih menjadi prioritas dibandingkan context setter yang memiliki power tinggi tetapi tidak memiliki interest serta bersikap negatif terhadap organisasi. Prioritas ini juga lebih tinggi dibandingkan key player dengan sikap ambivalen. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa organisasi dakwah skala kecil bergantung pada penguatan subject positif internal, sambil menunda komunikasi intens yang lebih kompleks dengan key player ambivalen atau koalisi context setter negatif yang berpotensi menimbulkan tekanan politik yang berbahaya bagi organisasi dakwah kecil.
Copyrights © 2026