Keselamatan pasien merupakan indikator utama mutu layanan rumah sakit yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya efektivitas komunikasi tim. Komunikasi yang baik mendorong keterbukaan, koordinasi, dan pelaporan insiden secara tepat waktu. Namun, penelitian yang secara spesifik mengkaji hubungan komunikasi tim dengan frekuensi pelaporan kejadian keselamatan pasien di tingkat unit keperawatan masih terbatas, terutama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional terhadap perawat di unit rawat inap rumah sakit. Instrumen yang digunakan adalah Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) versi 2.0 dari AHRQ, yang meliputi subdimensi Teamwork within Units dan Frequency of Events Reported dengan skala Likert 4 poin. Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana setelah uji asumsi klasik terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi tim berpengaruh positif terhadap frekuensi pelaporan kejadian keselamatan pasien (B = 0,188; β = 0,179; p = 0,050). Meskipun hubungan tersebut bersifat marginal, arah korelasinya menunjukkan bahwa semakin efektif komunikasi dalam tim keperawatan, semakin meningkat kecenderungan pelaporan insiden keselamatan pasien. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi tim merupakan elemen penting dalam membangun budaya keselamatan pasien, namun efektivitasnya bergantung pada dukungan manajerial, kebijakan non-punitif, dan sistem pelaporan yang responsif. Komunikasi tim memiliki peran positif dalam meningkatkan frekuensi pelaporan kejadian keselamatan pasien. Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal atau intervensional disarankan untuk menguji hubungan kausal dan peran mediasi variabel organisasi dalam memperkuat budaya keselamatan pasien di rumah sakit. Kata kunci: Budaya Keselamatan Pasien; Komunikasi Tim; Pelaporan Insiden; Perawat; Rumah Sakit
Copyrights © 2025