Pendidikan tinggi masih mempertahankan model blended learning setelah berakhirnya pandemi Covid-19 pada tahun 2023. Namun, efektivitas model pembelajaran ini perlu dievaluasi kembali. Para dosen melaporkan bahwa mata kuliah bersifat abstrak dan membutuhkan pemahaman mendalam, seperti matematika; kemampuan matematika mahasiswa tahun pertama masih mengkhawatirkan. Khususnya dalam menguasai konsep dasar matematika. Jika kondisi ini meluas, maka muncul pertanyaan apakah pembelajaran daring atau blended masih menjadi pilihan terbaik pascapandemi. Tujuan penelitian adalah membandingkan hasil belajar luring dan blended learning. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari nilai tes akhir pembelajaran dan dianalisis menggunakan uji t dua sampel independen, dengan hipotesis H0: tidak terdapat perbedaan dan H1: terdapat perbedaan. Data berdistribusi normal dengan nilai signifikansi 0,083 untuk kelas luring dan 0,092 untuk kelas blended dan memiliki varians yang homogen dengan signifikansi sebesar 0,184. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.015 (sig < 0,05), sehingga H0 ditolak. Statistika deskriptif menunjukkan nilai rata-rata kelas luring 7.87 lebih tinggi dibandingkan kelas blended sebesar 6.25. Kelas luring juga memiliki nilai minimum lebih tinggi serta simpangan baku yang lebih kecil (SD = 1.187) dibandingkan kelas blended (SD = 2.006), yang menunjukkan bahwa capaian hasil belajar mahasiswa pada kelas tatap muka lebih konsisten. Temuan ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara pembelajaran luring dan blended learning, di mana pembelajaran luring menghasilkan capaian hasil belajar yang lebih baik.
Copyrights © 2025