Indonesia merupakan negara yang rawan bencana alam, khususnya gempa bumi, karena letaknya di pertemuan empat lempeng tektonik dunia. Salah satu wilayah yang sering terdampak adalah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang pernah mengalami gempa besar pada tahun 2006. Tingginya risiko gempa bumi menuntut peningkatan kesiapsiagaan, terutama di lingkungan sekolah. Namun, studi pendahuluan di SMA Muhammadiyah 1 Bantul menunjukkan bahwa pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa terhadap bencana gempa bumi masih rendah, serta belum pernah dilakukan edukasi secara terstruktur mengenai kesiapsiagaan bencana di sekolah tersebut. Penelitian menggunakan desain kuasi eksperimen dengan pendekatan two group pre-post test. Sampel penelitian adalah siswa kelas 10 SMA Muhammadiyah 1 Bantul dengan jumlah sampel 94 responden yang dibagi menjadi dua kelompok intervensi: satu kelompok diberikan edukasi menggunakan media poster, dan kelompok lainnya diberikan penyuluhan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner kesiapsiagaan gempa bumi sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data ,bivariat menggunakan uji Wilcoxon Match Pairs Test untuk masing-masing kelompok dan uji Mann-Whitney U untuk membandingkan efektivitas kedua metode. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metode, dengan penyuluhan terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan siswa dibandingkan media poster (nilai p = 0,008). Setelah intervensi, proporsi siswa dengan kategori kesiapsiagaan "sangat siap" lebih tinggi pada kelompok penyuluhan (61,7%) dibandingkan dengan kelompok poster
Copyrights © 2025