Kegiatan pengabdian ini diarahkan pada optimalisasi lahan pertanian Desa Matesih melalui program pemberdayaan masyarakat dengan penerapan sistem tanam tumpang sari sebagai upaya mendukung pertanian berkelanjutan. Aktivitas pertanian masyarakat di Desa Matesih, Karanganyar mayoritas diutamakan pada komoditas pangan dan hortikultura, namun pengelolaan lahan masih belum dilakukan secara efisien. Pola tanam monokultur menyebabkan pemanfaatan ruang dan sumber daya lahan kurang maksimal serta berdampak pada produktivitas hasil panen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan sistem budidaya yang lebih efektif dan berkelanjutan. Metode pengabdian ini menggunakan pendekatan partisipatif yang meliputi perencanaan program, observasi, serta pelaksanaan program melalui sosialisasi dan pelatihan. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan melibatkan petani dan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Pelaksanaan program dilakukan melalui empat tahap utama, meliputi penyuluhan mengenai konsep pertanian berkelanjutan dan sistem tumpang sari, pelatihan teknis penerapan pola tanam tumpang sari di lahan pertanian, pendampingan serta penguatan kolaborasi dengan BUMDes Matesih. Penerapan sistem tanam tumpang sari diharapkan dapat meningkatkan intensitas pemanfaatan lahan, menekan risiko kegagalan panen, serta meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, program ini berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, khususnya tujuan ke-2 terkait ketahanan pangan dan tujuan ke-13 mengenai aksi terhadap perubahan iklim melalui praktik pertanian yang ramah lingkungan.
Copyrights © 2026