Sungai Musi merupakan nadi kehidupan peradaban Palembang sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga era kota metropolitan modern. Penelitian ini bertujuan mengungkap peran multifaset Sungai Musi sebagai pusat kegiatan politik-ekonomi, agama-budaya, transportasi, dan ruang hidup masyarakat Palembang dari abad ke-7 M hingga abad ke-21 melalui tinjauan kajian literatur. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana transformasi fungsi Sungai Musi dari pusat maritim Sriwijaya menjadi sungai perkotaan yang menghadapi ancaman pencemaran dan banjir di era modern, serta bagaimana memori kolektif masyarakat Palembang tetap mempertahankan sungai tersebut sebagai identitas kota. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research. Data primer bersumber dari naskah kuno (prasasti Sriwijaya, Nagarakrtagama, Sejarah Melayu) dan laporan arkeologi underwater, sedangkan data sekunder berasal dari 47 artikel jurnal, 18 buku, dan 9 tesis/diserasi terbit 1980–2025. Teknik pengumpulan data menggunakan pendekatan historis-kronologis dan tematik. Validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber dan teori. Analisis dilakukan dengan content analysis dan interpretasi hermenetika sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Musi bertransformasi dari “jalur sutra maritim” Sriwijaya (abad 7–13), pusat perdagangan kolonial Belanda (abad 17–19), sumber minyak dan gas (1950–1990), hingga menjadi objek wisata heritage dan ruang publik kontemporer. Namun, industrialisasi dan pembuangan limbah telah menurunkan kualitas air hingga kelas IV. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa Sungai Musi bukan hanya infrastruktur fisik, melainkan living heritage yang terus membentuk identitas kolektif Palembang. Kata kunci: Sungai Musi, Kerajaan Sriwijaya, Palembang kolonial, identitas kota, living heritage, transformasi Sungai
Copyrights © 2026