Kabupaten Lebak merupakan sentra produksi manggis unggulan di Provinsi Banten dengan volume produksi mencapai 37.181,49 kwintal pada tahun 2023. Meskipun memiliki potensi ekspor yang besar, petani masih menghadapi kendala kualitas seperti getah kuning dan serangan hama thrips. Pemerintah mengintervensi permasalahan ini melalui program Upland Project yang berfokus pada pengembangan agribisnis manggis dari hulu ke hilir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan factor internal petani manggis dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi peran penyuluh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 30 petani peserta program UPLAND di Kecamatan Cipanas yang dipilih secara acak (random sampling). Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh faktor internal (umur, pendidikan, pengalaman, kekosmopolitan) dan faktor eksternal (dukungan pemerintah, sarana prasarana, intensitas penyuluhan, informasi pasar) terhadap peran penyuluh sebagai edukator, fasilitator, dan organisator. Hasil penelitian menunjukkan persamaan regresi Y = -1,048 + 0,566X1 + 0,453X2. Uji F menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal secara simultan berpengaruh signifikan terhadap peran penyuluh dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0,638 (63,8%). Secara parsial, faktor internal (X1) memberikan kontribusi positif yang lebih besar dibandingkan faktor eksternal (X2). Peran penyuluh terbukti krusial dalam mengawal penerapan Good Agricultural Practices (GAP) melalui Sekolah Lapang, memfasilitasi registrasi kebun untuk akses pasar ekspor, serta mengorganisir pembentukan korporasi petani/koperasi guna meningkatkan nilai tawar dan kesejahteraan petani manggis di Kabupaten Lebak.
Copyrights © 2026