Ramadan merupakan periode ibadah yang mendorong banyak ibu menyusui untuk tetap berpuasa, meskipun berada dalam fase laktasi yang memerlukan perhatian khusus terhadap kecukupan nutrisi dan hidrasi. Kekhawatiran utama yang sering muncul adalah potensi penurunan produksi dan kualitas ASI serta dampaknya terhadap kesehatan bayi. Artikel ini bertujuan menyusun pola ideal ibu menyusui saat Ramadan berdasarkan sintesis literatur ilmiah terkini agar puasa dapat dijalankan secara aman tanpa mengorbankan kesehatan ibu dan bayi. Penulisan menggunakan pendekatan narrative literature review dengan sumber data berupa artikel penelitian primer, systematic review, meta-analisis, serta pedoman organisasi kesehatan yang diperoleh melalui basis data internasional. Analisis dilakukan secara tematik mencakup aspek fisiologi laktasi, dampak puasa terhadap komposisi ASI, kebutuhan nutrisi dan cairan, indikator kecukupan asupan bayi, serta kondisi yang memerlukan penghentian puasa. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pada ibu menyusui sehat, puasa jangka pendek umumnya tidak mengubah komposisi makronutrien ASI secara bermakna, selama kebutuhan nutrisi dan hidrasi terpenuhi dalam rentang waktu berbuka hingga sahur. Produksi ASI tetap terutama dipengaruhi oleh mekanisme supply–demand melalui frekuensi dan efektivitas pengosongan payudara. Pola ideal meliputi pengaturan makan tiga fase (sahur–berbuka–malam), konsumsi cairan bertahap, asupan gizi seimbang, serta pemantauan indikator kecukupan ASI seperti jumlah popok basah dan perilaku bayi setelah menyusu. Dapat disimpulkan bahwa puasa pada ibu menyusui dapat dilakukan secara aman dengan pendekatan individual, manajemen nutrisi yang tepat, serta monitoring kondisi bayi secara objektif. (El-Kurdy et al., 2025)
Copyrights © 2025