Riyanti, Farika
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR): Tinjauan Literatur tentang Strategi Medis, Nutrisi, dan Dukungan Psikososial Kurniati, Ayu; Riyanti, Farika
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/jliper.v3i1.17

Abstract

Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas neonatal. Faktor penyebab BBLR cukup kompleks, mulai dari kondisi ibu selama kehamilan, usia kehamilan yang belum cukup bulan, hingga faktor lingkungan. Bayi dengan BBLR sangat rentan mengalami gangguan pernapasan, infeksi, hipotermia, dan kesulitan menyusu. Oleh karena itu, diperlukan perawatan yang tepat dan menyeluruh untuk meningkatkan kualitas hidup bayi. Penelitian ini menggunakan metode literatur review dengan menelaah berbagai artikel dan jurnal ilmiah dari database nasional maupun internasional, yang relevan dengan topik perawatan BBLR. Seleksi literatur dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis secara tematik untuk menemukan strategi perawatan yang efektif. Hasil kajian menunjukkan bahwa intervensi utama dalam perawatan bayi BBLR meliputi perawatan metode kanguru, pemberian ASI eksklusif, pencegahan hipotermia, pemantauan tumbuh kembang, serta dukungan keluarga. Perawatan kanguru terbukti efektif dalam menjaga suhu tubuh, meningkatkan ikatan emosional, serta mendukung keberhasilan pemberian ASI. Pemberian nutrisi yang adekuat serta pemantauan rutin juga penting untuk mencegah komplikasi dan memastikan tumbuh kembang optimal.
Karakteristik Ibu yang Mengalami Postpartum Blues Sudarmini, Heni; Riyanti, Farika
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 2 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjadi seorang ibu merupakan pengalaman yang penuh tantangan dan tanggung jawab yang tidak selalu menyenangkan bagi setiap wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian postpartum blues di Klinik Amanah Bunda Medika cukup tinggi, yaitu sebesar 67,6% dari total ibu yang melahirkan. Postpartum blues lebih banyak dialami oleh ibu primipara (52,2%), menunjukkan bahwa pengalaman melahirkan pertama kali dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini. Selain itu, usia ibu juga berpengaruh, di mana ibu yang berada dalam kategori usia berisiko (<20 tahun atau >35 tahun) lebih banyak mengalami postpartum blues (52,2%). Faktor pendidikan juga memiliki hubungan dengan kejadian postpartum blues, di mana ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih dominan mengalami kondisi ini (73,9%). Dari segi jenis persalinan, mayoritas ibu yang mengalami postpartum blues melahirkan secara normal (78,3%), dan sebagian besar dari mereka memiliki kehamilan yang direncanakan (60,9%).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan Inisiasi Menyusui Dini pada Ibu Hamil Riyanti, Farika; Kurniati, Ayu
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 2 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan proses penting dalam pemberian ASI yang dimulai dalam satu jam pertama setelah bayi lahir. IMD dilakukan dengan membiarkan bayi secara alami mencari payudara ibu dan mulai menyusu sendiri (The Breast Crawl). Berdasarkan penelitian, tingkat pengetahuan ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di BPM Ani Wahyu Wijayanti menunjukkan bahwa 32,9% memiliki pengetahuan baik, 31,4% cukup, dan 35,7% kurang. Faktor pendidikan berpengaruh signifikan, di mana ibu dengan pendidikan tinggi lebih banyak memiliki pengetahuan baik (35%). Namun, ibu hamil yang belum berpengalaman dalam melahirkan justru memiliki pengetahuan lebih baik (39,2%) dibandingkan yang berpengalaman (15,8%), bertentangan dengan teori bahwa pengalaman meningkatkan pengetahuan. Sebagian besar ibu hamil memperoleh informasi tentang IMD dari tenaga kesehatan (55,7%), tetapi ibu yang mendapatkan informasi dari non-tenaga kesehatan memiliki tingkat pengetahuan lebih baik (41,9%). Hal ini menunjukkan bahwa akses informasi dari berbagai sumber, termasuk media dan program pemerintah, berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang IMD.
Pola Ideal Ibu Menyusui Saat Ramadan Kurniati, Ayu; Riyanti, Farika
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/ycjh7130

Abstract

Ramadan merupakan periode ibadah yang mendorong banyak ibu menyusui untuk tetap berpuasa, meskipun berada dalam fase laktasi yang memerlukan perhatian khusus terhadap kecukupan nutrisi dan hidrasi. Kekhawatiran utama yang sering muncul adalah potensi penurunan produksi dan kualitas ASI serta dampaknya terhadap kesehatan bayi. Artikel ini bertujuan menyusun pola ideal ibu menyusui saat Ramadan berdasarkan sintesis literatur ilmiah terkini agar puasa dapat dijalankan secara aman tanpa mengorbankan kesehatan ibu dan bayi. Penulisan menggunakan pendekatan narrative literature review dengan sumber data berupa artikel penelitian primer, systematic review, meta-analisis, serta pedoman organisasi kesehatan yang diperoleh melalui basis data internasional. Analisis dilakukan secara tematik mencakup aspek fisiologi laktasi, dampak puasa terhadap komposisi ASI, kebutuhan nutrisi dan cairan, indikator kecukupan asupan bayi, serta kondisi yang memerlukan penghentian puasa. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pada ibu menyusui sehat, puasa jangka pendek umumnya tidak mengubah komposisi makronutrien ASI secara bermakna, selama kebutuhan nutrisi dan hidrasi terpenuhi dalam rentang waktu berbuka hingga sahur. Produksi ASI tetap terutama dipengaruhi oleh mekanisme supply–demand melalui frekuensi dan efektivitas pengosongan payudara. Pola ideal meliputi pengaturan makan tiga fase (sahur–berbuka–malam), konsumsi cairan bertahap, asupan gizi seimbang, serta pemantauan indikator kecukupan ASI seperti jumlah popok basah dan perilaku bayi setelah menyusu. Dapat disimpulkan bahwa puasa pada ibu menyusui dapat dilakukan secara aman dengan pendekatan individual, manajemen nutrisi yang tepat, serta monitoring kondisi bayi secara objektif. (El-Kurdy et al., 2025)
Peran Asupan Antioksidan terhadap Kualitas Sperma Riyanti, Farika; Latifah, Khoirotul Umul
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/6pxry453

Abstract

Infertilitas pria merupakan salah satu penyebab utama gangguan kesuburan pasangan usia subur dan sering dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma. Salah satu mekanisme patofisiologis yang banyak dikaji adalah stres oksidatif akibat kelebihan reactive oxygen species (ROS), yang dapat merusak membran sperma serta meningkatkan fragmentasi DNA. Dalam konteks ini, asupan antioksidan dipandang berpotensi menekan dampak stres oksidatif dan memperbaiki parameter kualitas sperma. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara komprehensif bukti ilmiah mengenai peran asupan antioksidan terhadap kualitas sperma berdasarkan kajian literatur naratif-terstruktur. Data dikumpulkan dari publikasi ilmiah bereputasi melalui basis data internasional seperti PubMed, Scopus, Web of Science, dan Cochrane Library, dengan kriteria inklusi berupa studi randomized controlled trial, systematic review, dan meta-analysis yang melaporkan parameter semen (konsentrasi, motilitas, morfologi), integritas DNA sperma, serta luaran klinis seperti kehamilan dan kelahiran hidup. Hasil kajian menunjukkan bahwa suplementasi antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, coenzyme Q10, L-carnitine, selenium, zinc, dan N-acetylcysteine cenderung memberikan perbaikan terutama pada motilitas sperma dan sebagian pada konsentrasi serta morfologi. Namun, konsistensi hasil antar penelitian masih bervariasi. Bukti terhadap peningkatan luaran klinis seperti kehamilan dan kelahiran hidup juga menunjukkan hasil yang campuran. Secara keseluruhan, asupan antioksidan memiliki potensi dalam meningkatkan kualitas sperma melalui mekanisme penurunan stres oksidatif, tetapi efektivitas klinisnya belum sepenuhnya konklusif. Oleh karena itu, antioksidan lebih tepat dipertimbangkan sebagai terapi adjuvan pada pria dengan indikasi stres oksidatif, dengan evaluasi kualitas sperma mengikuti standar WHO.