Sekitar 31% populasi global yang berusia ≥15 tahun tidak cukup aktif secara fisik, sehingga menyebabkan 3,2 juta kematian setiap tahun. Di Indonesia, gaya hidup sedenter meningkat dari 26,1% (2013) menjadi 33,5% (2018), dengan 24,1% penduduk menjalani perilaku sedenter ≥6 jam per hari. Perilaku sedenter menyumbang sepertiga kematian akibat penyakit jantung koroner (PJK) di AS, dengan 1,9 juta kematian dini menurut WHO. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara gaya hidup sedenter dan screentime gawai terhadap risiko PJK terhadap pegawai di RS Insan Permata, Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan kuesioner Framingham Risk Score (FRS), 18 items screen time questionnare”, Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Penelitian ini menunjukkan bahwa 66,3% pegawai memiliki gaya hidup sedenter, 88,1% memiliki screentime tinggi, dan 98% berisiko rendah terhadap PJK. Analisis bivariat menggunakan korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara durasi tidur (p = 0,086) maupun screentime (p = 0,604) dengan risiko penyakit jantung koroner (PJK), karena kedua nilai p melebihi 0,05. Sebaliknya, faktor usia dan jenis kelamin menunjukkan hubungan signifikan terhadap risiko PJK, dengan nilai p masing-masing di bawah 0,05.
Copyrights © 2025