Latar belakang penelitian ini menyoroti bagaimana lanskap politik global telah mengalami transformasi melalui masuknya budaya populer ke dalam bahasa perlawanan. Simbol-simbol yang berasal dari anime dan budaya pop, khususnya Bendera Bajak Laut Topi Jerami dari serial One Piece, telah direkontekstualisasi menjadi alat semiotik politik dalam demonstrasi di Indonesia dan Nepal. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis semiotik Roland Barthes yang dikombinasikan dengan desain studi kasus komparatif. Kerangka metodologis ini memungkinkan interpretasi mendalam terhadap tanda-tanda visual dan proses pembentukan mitos yang mengubah simbol fiksi menjadi narasi politik perlawanan. Temuan utama mengungkap bahwa di Indonesia, Bendera Topi Jerami merepresentasikan perlawanan terhadap ketidakadilan ekonomi dan kekerasan negara, sedangkan di Nepal, simbol tersebut menandakan penentangan terhadap korupsi, nepotisme, dan sensor digital. Makna-makna ini berpadu menjadi bentuk perlawanan glokal yang menunjukkan bagaimana simbol budaya populer transnasional berfungsi sebagai infrastruktur solidaritas kolektif lintas negara. Kontribusi penelitian ini terletak pada perluasan kajian Semiotika Politik melalui konsep cultural hybrid resistance, yang memperlihatkan bagaimana simbol global memperoleh makna politik baru dalam konteks sosial-politik yang beragam. Implikasinya menunjukkan bahwa simbol-simbol budaya semacam ini seharusnya dibaca sebagai indikator kesadaran politik generasi muda, bukan sekadar ekspresi budaya populer semata.
Copyrights © 2026