Penelitian ini menginvestigasi sosiolek digital yang terbentuk dari fenomena kebahasaan dalam unggahan para pemuda Muslim di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), dengan fokus pada praktik code-mixing dan interferensi bahasa Arab. Sosiolek ini mencerminkan identitas sosial-keagamaan kelompok pemuda sebagaimana termanifestasi dalam komunikasi digital sehari-hari mereka. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan 50 data unggahan teks dari linimasa publik X yang mengandung unsur bahasa Arab, kemudian dianalisis melalui kerangka Sosiolinguistik.Temuan penelitian menunjukkan adanya dominasi praktik code-mixing dibandingkan interferensi bahasa Arab. Praktik code-mixing terutama berupa penyisipan kata-kata religius (misalnya istiqomah, sholihah), frasa (misalnya In Syaa Allah, Jazakallah Khair), dan klausa ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Fungsi utama code-mixing ini meliputi penguatan identitas keagamaan, penegasan emosi (seperti rasa syukur atau keterkejutan), serta sebagai bentuk sapaan di antara anggota komunitas (akhi, ukhti). Sementara itu, interferensi bahasa Arab ditemukan pada bentuk morfologis, seperti penggunaan akar kata kerja Arab yang diberi afiks bahasa Indonesia (misalnya istiqomahlah), yang menunjukkan adanya penyerapan leksikal yang memengaruhi struktur gramatikal lokal. Pembentukan sosiolek digital ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang interaksi linguistik, tetapi juga wadah konstruksi identitas keagamaan berbasis bahasa. Disimpulkan bahwa sosiolek digital pemuda Muslim di platform X ditandai oleh perpaduan antara bahasa gaul digital dan leksikon religius, yang membentuk gaya komunikasi yang khas, dinamis, dan ekspresif.
Copyrights © 2026