Perkembangan teknologi digital dan media sosial mengubah praktik komunikasi romantis, sekaligus memunculkan fenomena digital overthinking. Pola berpikir berulang yang dipicu oleh stimulus digital terkait pasangan (misalnya jeda balasan, interaksi pihak ketiga, postingan yang ambigu). Artikel ini mengkaji literatur internasional dan nasional tentang (1) kecemburuan digital dan electronic surveillance, (2) interpretasi pesan berbasis teks (ambiguity dan emoji), dan (3) regulasi emosi yang dimediasi teknologi dalam hubungan romantis. Melalui strategi pencarian sistematik pada database internasional dan repositori nasional, artikel mensintesis bukti empiris dan teori (attachment theory, uncertainty reduction, social comparison, dan emotion regulation). Hasil tinjauan menunjukkan bahwa affordances teknologi (persistence, visibility, asynchrony) meningkatkan potensi kecemburuan digital dan misinterpretasi pesan, individu dengan attachment anxiety lebih rentan mengalami overthinking dan teknologi bisa berfungsi sebagai alat regulasi adaptif sekaligus pemicu regulasi maladaptif. Dalam penelitian ini mengusulkan model integratif dan rekomendasi metodologis untuk penelitian selanjutnya, termasuk penggunaan EMA, analisis korpus pesan, dan desain intervensi digital.
Copyrights © 2026