Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi seorang lansia pensiunan guru terhadap kualitas hidupnya setelah menjalani masa pensiun di Yala, Thailand. Subjek penelitian merupakan seorang janda yang telah kehilangan suaminya akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Meskipun hidup sendiri, ia mampu bertahan dan bahkan produktif dengan membuka usaha laundry, berjualan jajanan di pinggir jalan, serta menjadi pengasuh asrama putri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektifnya tentang makna hidup dan kebahagiaan di masa tua. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung di tempat tinggal sekaligus tempat usahanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek memaknai kualitas hidup bukan dari aspek materi, melainkan dari kebermaknaan, kemandirian, dan kebermanfaatan bagi orang lain. Dukungan sosial dari anak-anak asrama dan tetangga menjadi sumber kekuatan utama yang membuatnya tetap optimis dan bersyukur. Penelitian ini menegaskan bahwa semangat dan spiritualitas menjadi faktor dominan dalam membentuk persepsi positif terhadap kualitas hidup lansia, meskipun dalam kondisi kehilangan pasangan dan keterbatasan ekonomi.
Copyrights © 2025