Perkembangan pesat teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara galeri seni rupa universitas memproduksi, mengkurasi, dan mengkomunikasikan karya seni. Studi ini mengkaji pergeseran etika dan estetika yang muncul dari transformasi tersebut melalui analisis komparatif RMIT Gallery dan George Paton Gallery di Melbourne serta Galeri Soemardja di Institut Teknologi Bandung. Dengan menggunakan metodologi kualitatif yang menggabungkan observasi lapangan (2019–2025), wawancara kurator, dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi berbagai tantangan etis dalam praktik seni digital, seperti isu kepengarangan, atribusi, bias dataset, representasi, dan tanggung jawab institusional. Pada saat yang sama, digitalisasi membentuk kecenderungan estetika baru yang ditandai oleh hibriditas medium, presentasi berbasis antarmuka, format partisipatif digital, dan inovasi pengarsipan. Kebaruan penelitian ini terletak pada posisinya yang melihat galeri universitas sebagai ruang penting dalam merumuskan kerangka etika dan estetika di era digital, khususnya dalam ekosistem teknologi Indonesia yang sedang berkembang. Studi ini menyimpulkan bahwa galeri universitas perlu memperkuat literasi digital, menyusun pedoman etika, dan mengembangkan strategi kuratorial adaptif guna merespons dinamika budaya visual berbasis AI.
Copyrights © 2026