Dalam perspektif fenomenologi eksistensial Heidegger, karya seni yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) tidak dapat dianggap autentik karena tidak lahir dari pergulatan Dasein yang terlempar ke dunia, mengalami kecemasan eksistensial (Angst), dan tidak menghadapi kematian sebagai kemungkinan yang paling sendiri. Karya seni yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) hanyalah suatu kalkulasi atas pola-pola karya seni yang sudah ada sebelumnya. Dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan bahwa penciptaan seni yang autentik lahir dari Dasein atas perjuangan dalam menghadapi keterlemparan dan kecemasannya sendiri. Melalui kanvas kosong, serta keharusan dalam memproyeksikan berbagai kemungkinan dalam ketiadaan menjadikan Dasein harus mengambil tanggung jawab dalam karya yang akan dibuat. Dalam era kecerdasan buatan (AI) yang instan, manusia dapat jatuh dalam hidup yang tidak autentik. Dengan berkarya melalui kegelisahan yang nyata, manusia dapat menghasilkan karya-karya yang benar-benar autentik dan tidak mengikuti suatu pola yang sudah ada. Temuan penelitian menunjukkan bahwa seni AI tidak menghadirkan proses pengungkapan makna sebagaimana dimungkinkan oleh Dasein, dan kebaruan tulisan ini terletak pada penegasan bahwa ketidakautentikan AI muncul bukan dari kualitas visualnya, melainkan dari absennya pengalaman eksistensial yang menjadi syarat penciptaan seni dalam pemikiran Heidegger. Kata kunci: fenomenologi, autentik, seni AI, kecerdasan buatan, penciptaan seni
Copyrights © 2026